Home / Peristiwa / Ahli Herpetologi Sebut Bisa Ular Weling dan Welang Nomor Dua Setelah Kobra

Ahli Herpetologi Sebut Bisa Ular Weling dan Welang Nomor Dua Setelah Kobra

Ahli Herpetologi Sebut Bisa Ular Weling dan Welang Nomor Dua Setelah Kobra
Ist
ILustrasi, Perbedaan ular Weling dan Welang jenis Bungarus Candidus.

Bandung, Oketimes.com - AR seorang bocah berusia 11 tahun meregang nyawa akibat dipatuk seekor ular weling (Bungarus candidus) di Ujung Berung, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (22/1/2020) kemarin.

Ahli Herpetologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amir Hamidy, ular jenis Bungarus Candidus memiliki jenis bisa neurotoksin. Racun ular berbisa itu, mampu menyerang sistem syaraf pernapasan hingga menyebabkan gagal nafas dan menyebar dalam hitungan menit.

"Bungarus candidus itu ular yang memang sangat berbisa tinggi. Jenis ini memiliki bisa neurotoksin, kegigitnya tidak sakit tapi efeknya sangat besar," kata Amir kepada awak media seperti dilansir oketimes.com dari CNNIndonesia pada Kamis (23/1/2020).

Menurut Amir, Ular weling banyak ditemukan di daera persawahan dan tempat-tempat yang berdekatan dengan air. Karena ular Weling merupakan bagian dari 12 jenis ular terestrial (ular yang hidup di tanah) paling berbisa setelah kobra.

"Struktur warna tubuh ular weling belang hitam-putih, namun pada bagian perut bawahnya berwarna putih. Selain itu, ekornya berbentuk lancip," terang Amir.

Selain weling lanjut Amir, jenis ular welang harus diwaspadai, karena masuk golongan bisa paling berbahaya. Keduanya sama-sama memiliki jenis bisa neurotoksin.

Meski tampilan tubuh welang sama dengan weling, namun belang hitam-putih welang sampai ke perut bagian bawah. Selain itu, ukuran badannya pun lebih besar dibanding weling dan memiliki tanda 'V' terbalik di atas kepalanya.

"Mereka sama-sama belang hitam-putih, kalau weling belangnya tidak sampai perut. Weling itu perutnya semua berwarna putih, tidak belang-belang. Kalau welang belangnya sampai hingga ke perut," ulas Amir.

Selain itu lanjut Amir, ular Welang ekornya tumpul, kalau weling ekornya lancip. Welang ada tanda V terbalik di kepalanya, kalau weling tidak ada. Lalu, Welang biasanya ukurannya lebih besar," pungkasnya.

Seperti diwartawakan, ular Weling sempat menjadi perbincangan ketika seorang petugas keamanan atau Satpam sebuah perumahan di Gading Serpong, Tangerang Selatan, bernama Iskandar meninggal dunia usai terkena gigitan. Kejadian tersebut terjadi pada Agustus 2019.

Lalu, Iskandar bersama rekannya, Jaelani, datang membawa peralatan seadanya berupa tongkat. Kemudian, Iskandar menjepit kepala ular dengan tongkat dan menangkapnya dengan tangan kosong.

Namun, diduga Iskandar kurang erat memegang ular sehingga binatang melata itu mematuk jari telunjuknya. Seketika, Iskandar kemudian berusaha menghisap dan mengeluarkan bisa ular pada luka di jarinya itu.

Hal yang tidak jauh beda juga terjadi kepada AR, seorang bocah berusia 11 tahun meregang nyawa akibat dipatuk seekor ular weling (Bungarus candidus) di Ujung Berung, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (22/1/2020) kemarin. ***


Source   : CNNIndonesia
Editor     : Van Hallen

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.