Proyek R80 BJ Habibie Tersingkir, Jokowi Fokus Kembangkan Drone

Presiden Joko Widodo (kanan) mendengarkan penjelasan dari Presiden ke-3 RI BJ Habibie (kedua kiri) dengan latar depan miniatur pesawat R80. Foto: ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma & Foto: Drone Made RI yang bisa bawa Bom. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, Oketimes.com - Proyek pesawat buatan anak bangsa gagasan almarhum Presiden B.J Habibie, R80, 'tersingkir' di tengah jalan, lantaran pemerintah memutuskan untuk menghapus dua proyek pengembangan pesawat R80 dan N245 yang digantikan dengan produksi drone atau pesawat nirawak.

Dilansir dari Antara, Sabtu (30/5/2020), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan, pengembangan pesawat nirawak tersebut dinilai lebih ideal dilakukan dalam kondisi saat ini. Lantaran itu, pemerintah, mendahulukan pengembangan proyek pesawat nirawak di banding R80 dan N245.

Airlangga Hartarto mengatakan ada 89 proyek yang masuk ke dalam Program Strategis Nasional (PSN) Indonesia di tahun 2020 hingga 2024 mendatang. Menko Perekonomian menilai sejumlah proyek tersebut, bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Sedangkan proyek pengembangan pesawat R80 dan N245 terpaksa dicoret. Padahal proyek tersebut dulunya digadang untuk mengadakan pesawat dalam negeri. Sementara proyek N245 dikerjakan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

"Dari 245 proyek baru yang memenuhi kriteria, ada sebanyak 89 proyek yang akan dikembangakan. Sementara 156 proyek belum direkomendasikan, karena masih membutuhkan dukungan kementerian teknis dan perlu kelengkapan dan perlu memenuhi kriteria yang ditetapkan sebagai PSN. Presiden berharap ada dampak kepada masyarakat, terhadap pertumbuhan ekonomi dan terkait dengan pengembangan sosial ekonomi," papar Airlangga dalam konferensi persnya pada Jumat (29/5/2020).

"Kemudian terkait dengan 3 proyek drone. Di mana 3 proyek terkait pengembangan drone itu sebagai pengganti proyek yang dikeluarkan antara lain R80 dan N245," imbuh Menko Perekonomian itu.

Menurut Airlangga, pengembangan drone lebih sesuai dengan kondisi saat ini, dibandingkan membuat pesawat dalam negeri. "Sehingga dialihkan menjadi teknologi drone yang dianggap lebih cocok dengan situasi saat sekarang dan pengembangannya sudah dimulai oleh PTDI," paparnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi meminta para menteri meninjau 245 usulan PSN dan dipilih yang benar-benar bermanfaat untuk jangka panjang.

"Terkait dengan usulan 245 PSN (Program Strategis Nasional baru saya minta untuk betul-betul dilihat di lapangan, dihitung dikalkulasi secara rinci mana yang direkomendasi dan mana yang tidak direkomendasi," kata Jokowi dalam sambutannya di ratas Evaluasi Proyek Strategis Nasional Untuk Pemulihan Ekonomi.

Lantas sejak kapan muncul ide membuat pesawat R80 dan N245 dan siapa yang ingin membuat pesawat itu? Pesawat R80 adalah impian Presiden BJ Habibie yang belum terwujud yang sudah dirancang oleh PT Regio Aviasi Industri (RAI).

Melansir Kompas.com pada awalnya BJ Habibie mengumumkan rancangan pesawatnya pada tahun 2013 lalu, akan tetapi mengalami penundaan beberapa kali. Kemudian pada tahun 2017, 2019 direncanakan akan mengudara, tapi malah diundur lagi menjadi tahun 2021 mendatang dan selanjutnya akan diproduksi massal pada 2025 mendatang, karena pesawat R80 bisa membawa 80-90 penumpang.

Mengutip harian Kompas pada Rabu (9/4/2014) lalu, Komisaris PT RAI Ilham Habibie menyebutkan bahwa pesawat R80 menggunakan baling-baling, sehingga lebih hemat bahan bakar. Pesawat tersebut diklaim lebih baik ketimbang pesawat sekelasnya, ATR 72 dan Bombardier Dash 8 series 400. Sebab, kecepatannya menandingi dua pesawat itu.

Pesawat R80 didesain bisa terbang hingga kecepatan maksimum 800 knot atau 1.480 km per jam. Di Indonesia, kecepatan maksimal pesawat umumnya sekitar 70 persen di bawah 400 knot atau 340 km per jam, karena jarak antarkota pendek.

Menurut BJ Habibie, pesawat jenis baling-baling itu, lebih efisien bagi jarak pendek, karena kecepatan rata-rata 500 knot atau 926 kilometer per jam.

"Targetnya untuk melayani penerbangan jarak pendek hingga menengah pada bandara dengan landas pacu 1.300 meter,” kata Direktur Utama PT RAI Agung Nugroho, seperti dikutip harian Kompas pada Jumat (29/9/2017) lalu.

Dalam membuat R80, BJ Habibie bekerja sama dengan banyak pihak. Namun, yang paling penting adalah dukungan pemerintah. "Yang kami butuhkan adalah dukungan pemerintah untuk financing bagian Indonesia. Bagian swasta dan luar negeri, mereka akan ikut kalau dari pemerintah ikut menyumbang," kata Habibie, seperti ditulis Kompas.com pada Rabu (11/9/2019).

Habibie membutuhkan dana Rp 200 miliar untuk membuat prototipe pesawat R80. Total kebutuhan dana untuk skala industri sekitar Rp 20 triliun.

Tak hanya meminta bantuan pemerintah untuk mewujudkannya, Habibie juga menggalang dana lewat Kitabisa. Para donor bisa mendapatkan reward berupa wajahnya terpampang di badan pesawat.

Begitu juga dengan pengembangan pesawat N245 yang juga merupakan pesawat buatan anak negeri. Dimana pesawat N245 adalah pengembangan pesawat CN235 yang ditambah panjang atau dimodifikasi ekornya hingga kapasitas angkut bertambah dari 44 orang menjadi 50 orang.

Pengembangan pesawat ukuran menengah pengangkut 30-60 penumpang it, juga jadi keinginan Presiden Joko Widodo saat mengunjungi PT Dirgantara Indonesia (PT DI) pada 12 Januari 2015 lalu. Lantaran pesawat dirancang memiliki beberapa pemberhentian atau menerbangi rute pendek, sehingga bisa mengangkut dan menurunkan penumpang lebih banyak.

Sebagai gambaran, untuk rute Jakarta-Surabaya, Pesawat N245 bisa singgah di Cirebon dan Semarang. Keuntungannya, waktu perjalanan antar kota jadi lebih singkat, nyaman, dan tidak kena macet. Harapannya, pesawat itu bisa jadi angkutan penghubung antarpulau dan antar kota dengan landasan pendek.

Pembangunan pesawat bisa mendukung program kemaritiman pemerintah. Konsep negara maritim tetap butuh pesawat untuk mengamankan laut atau penghubung antar pulau.

Selain itu, pengembangan N245 juga penting untuk menggerakkan ekonomi atau meningkatkan kemampuan para perekayasa dirgantara Indonesia. Tapi semua impian anak bangsa tersebut harus terhenti di musim ini, lantaran pemerintah menilai proyek pengembangan drone lebih efisien dan menguntungkan diera digital saat ini.***


Source   : Kompas. com & Antara  / Editor  : Van Hallen    

Tags :berita
Komentar Via Facebook :

Berita Terkait