Home / Internasional / Kebijakan Lockdown India Bikin Stress Warga

Kebijakan Lockdown India Bikin Stress Warga

Kebijakan Lockdown India Bikin Stress Warga
(AP)
Ribuan pekerja memilih pulang ke kampung halamannya setelah pemerintah India memberlakukan "lockdown" selama 21 hari untuk mencegah penyebaran COVID-19.

New Delhi, Oketimes.com - Akibat kebijakan Lockdown Corona diterapkan di negara India, jutaan warga sipil terancam sengsara dan menimbulkan konflik sosial hingga kini.

Kebijakan tersebut membuat pabrik-pabrik di wilayah tersebut tutup sementara dan harga kebutuhan pokok naik tinggi, sehingga warga menjadi tress tak punya uang karena upahnya dibayar harian.

Tak sampai disitu, bidang medis juga ikut menderita. Stok masker N-95 serta Alat Pelindung Diri (APD) kian menipis. Tenaga medis jadi makin berisiko tertular virus corona.

Dilansir dari AFP, tutupnya pabrik-pabrik berimbas pada pengangguran massal dan para buruh disana tinggal di apartemen yang sempit, bekerja berjam-jam untuk beberapa dollar sehari, dalam kondisi yang kerap tidak aman tanpa jaminan sosial.

Kemudian operasional sebagian besar transportasi umum terhenti. Pergerakan warga menjadi sangat terbatas. Di Delhi, hanya pemegang izin pemerintah yang bisa menggunakan layanan bus umum. Sementara polisi dan paramiliter menghentikan kendaraan pribadi yang melintas.

Dilansir dari Aljazeera, sejumlah rumah sakit menyatakan kelangkaan stok masker N-95 dan Alat Pelindung Diri (APD). Rasio perbandingan jumlah tempat tidur rumah sakit di India adalah 0,7 untuk setiap 100.000 orang. Jauh lebih sedikit dari negara seperti Korea Selatan (6 per 100.000) yang sanggup membendung penyebaran virus.

Ventilator (alat bantu pernapasan, Red) di India juga terbatas. Ada hampir 100.000 ventilator, tapi sebagian besar dimiliki rumah sakit swasta dan sudah dipakai pasien dengan penyakit kritis. ***

Para pekerja migran berjalan menuju terminal bus di Ghaziabad, New Delhi, Minggu (29/3/2020). Ribuan pekerja memilih pulang ke kampung halamannya setelah pemerintah India memberlakukan "lockdown" selama 21 hari untuk mencegah penyebaran COVID-19.

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.