Home / Politik / Munarman Sebut FPI Tidak Kecewa Soal Prabowo Pilih Sobatnya Masuk ke Pemerintahan Jokowi

Munarman Sebut FPI Tidak Kecewa Soal Prabowo Pilih Sobatnya Masuk ke Pemerintahan Jokowi

Munarman Sebut FPI Tidak Kecewa Soal Prabowo Pilih Sobatnya Masuk ke Pemerintahan Jokowi
(Tempo)
Juru Bicara Front Pembela Islam (FPI) Munarman menyapa wartawan usai diperiksa di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Bali, Denpasar, Bali, 14 Februari 2017 lalu. Foto: Johannes P. Christo.

 

Jakarta, Oketimes.com - Front Pembela Islam (FPI) mengaku tak kecewa dengan masuknya lima sahabat Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, termasuk Letnan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin dan Letnan Jenderal (Purn) Johannes Suryo Prabowo masuk dalam pemerintahan Joko Widodo.

Semenjak Prabowo menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI, dia mengangkat Sjafrie sebagai asisten khusus dan JS Prabowo menjadi Komite Kebijakan Industri Pertahanan.

Sekretaris Umum FPI Munarman mengaku tidak kecewa dengan pilihan Prabowo tersebut, dengan alasan bahwa hubungan FPI dengan partai politik, termasuk Gerindra pada Pilpres 2019 hanya bersifat taktis dan menyebut rasa kecewa itu hanya ada dalam hubungan percintaan.

"Kami bukan main perasaan, kalau kecewa itu kan orang jatuh cinta. Kami ini bukan cinta-cintaan. Kami ini urusannya sangat jelas, ada proses kontrak politik, ada program yang kita ajukan. Jadi bukan soal perasaan. Kalau kecewa itu soal perasaan," kata Munarman kepada awak media di Jakarta seperti dilansir CNNindonesia.com pada Selasa (31/12/2019).

Dikatakan Munarman, pada Pilpres 2019 lalu, FPI dengan partai politik pengusung Prabowo hanya menjalin hubungan yang taktis. Hal itu menurutnya, lantaran calon lainnya, yakni Joko Widodo, berpotensi mengkriminalisasi ulama maupun ajaran islam.

Munarman juga menyebutkan bahwa FPI dan kelompok Islam lainnya, mengusung calon yang tidak memiliki rekam jejak menyakiti ulama. Karena lanjutnya, usai Pilpres selesai, FPI sudah tidak punya urusan dengan partai-partai yang sempat bersama-sama.

"Siapa pun setelah kontestasi selesai, ya urusan dia masing-masing, bukan urusan kami lagi," tegas Munarman.

Sementara itu, Direktur Lingkar Madani Ray Rangkuti mengkritik langkah Prabowo mengangkat Sjafri dan JS Prabowo. Ia mengaku heran dengan sikap dua orang purnawirawan yang berpindah haluan dalam hitungan bulan.

Menurut Ray, dua orang itu merupakan sosok yang kerap mengkritik Jokowi selama Pilpres 2019 lalu. "Yang dulunya paling sering menghantam Jokowi habis habisan dan sekarang merasa nyaman jadi anak buahnya Pak Jokowi, pada level kedua, ketiga pula," tukas Ray bernada heran.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menunjuk lima purnawirawan jenderal menjadi Asisten Khusus Menhan. Salah satu purnawirawan yang ditunjuk adalah eks Komandan Tim Mawar, Mayjen TNI (Purn) Chairawan Kadarsyah Kadirussalam Nusyirwan.

Chairawan resmi menjadi Asisten Khusus Menhan pada 6 Desember 2019 lalu. Penunjukan Chairawan itu, tertuang dalam surat Keputusan Menteri Pertahanan Nomor KEP/1869/M/XII/2019 tentang Pengangkatan Sebagai Asisten Khusus Menteri Pertahanan.

Selain Chairawan, Prabowo juga menunjuk 4 purnawirawan jenderal lainnya. Para purnawirawan itu yakni Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, Letjen TNI (Purn) Hotmangaradja Pandjaitan, Laksdya TNI (Purn) Didit Herdiawan dan Marsda TNI (Purn) Bonar H Hutagaol.

"Mulai tanggal 6 Desember 2019, mengangkat sebagai Asisten Khusus Menteri Pertahanan yang namanya tersebut masing-masing: Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, Letjen TNI (Purn) Hotmangaradja Pandjaitan, Laksdya TNI (Purn) Didit Herdiawan, Mayjen TNI (Purn) Chairawan Kadarsyah Kadirussalam Nusyirwan, dan Marsda TNI (Purn) Bonar H Hutagaol," demikian bunyi keputusan tersebut, seperti dikutip dari detik.com, Selasa (31/12/2019).

Chairawan merupakan mantan Komandan Grup 4 Sandi Yudha Komando Pasukan Khusus (Kopassus) saat pasukan elite Angkatan Darat itu dipimpin Prabowo.

Tak hanya di militer, Chairawan juga mengikuti jejak Prabowo di politik. Berdasarkan situs resmi Gerindra, Chairawan tercatat sebagai Waketum Bidang Pertahanan dan Keamanan Nasional Gerindra.

Hal itu dikonfirmasi oleh Wakil Ketua Umum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad. Dasco mengatakan Sjafrie menjabat sebagai asisten khusus, sementara Suryo Prabowo menjadi Komite Kebijakan Industri Pertahanan.

"Pak Sjafrie penasihat (asisten) khusus, Pak Suryo Prabowo itu Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP)," kata Dasco melalui pesan singkat, Senin (30/12/2019).

Sjafrie dikenal dekat dengan Prabowo. Mereka berdua satu angkatan saat berada di TNI, yakni angkatan 1974. Saat kerusuhan 1998, Sjafrie tengah menduduki posisi Panglima Kodam Jaya, sementara Prabowo menjabat sebagai Pangkostrad.

Sementara JS Prabowo lulus dari TNI angkatan 1976, dua tahun di bawah Prabowo. Kala itu, JS Prabowo mendapat gelar Adhi Makayasa atau lulusan terbaik di angkatannya.

Pada Pilpres 2019 lalu, Suryo termasuk orang yang kerap berada di samping Prabowo. Ia sering terlihat dalam rapat yang digelar Prabowo dalam rangka kerja-kerja pemenangan Pilpres 2019.***

 

Source  : CNNIndonesia and Detik.com
Editor    : Van Hallen

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.