Tuding Tampung Barang Bekas Milik Perusahaan, Security PT CPI 'Sasar' Rumah Warga

ILustrasi

Pekanbaru, Oketimes.com - Dituduh menampung barang bekas atau limbah milik PT Chevron Pacific Indonesia (PT.CPI), oknum security PT CPI bersama tiga personil anggota Polri, mendatangi rumah warga untuk mengintrogasi terkait dugaan adanya kehilangan barang bekas milik PT CPI pada Jumat (17/4/2020) sore.

Adalah NS (50), warga Palas, Rumbai, Pekanbaru, tak terima dirinya dituduh menerima atau memindahkan barang illegal menjadi yang didatangi sejumlah orang yang mengaku dari security Chevron Pacific Indonesia CPI dengan cara mengintrogasi dan memeriksa gudang barang bekas atau lebih dikenal dengan usaha besi tua miliknya.

"Saya tidak terima kami diberlakukan seperti pencuri dan dituduh telah menampung barang bekas milik PT CPI, dengan cara mengintrogasi dengan membawa petugas bersenjata lengkap. Padahal saya kan, hanya warga biasa yang kebetulan memiliki usaha menampung barang-barang limbah untuk kami jual kembali ke toke penampung," kata NS saat dihubungi Minggu (19/4/2020) siang.

Dikisahkan NS, kedatangan rombongan tersebut dengan menaiki kendaraan roda dua sebanyak 6 unit yang parkir secara tiba-tiba di dekat rumahnya bersama tiga personil Polri bersenta lengkap dan mengaku sebagai security PT Chevron. Membuat dirinya bersama istri dan anaknya traumu, akibat arogansi mereka yang datang secara tiba-tiba.  

"Mereka tiba-tiba datang ke gudang saya. Kedatangannya menanyakan ada barang Caltex (Chevron) ada digudang kami. Lalu, saya bilang, jangan gitulah pak," kata NS  menjawab pertanyaan oknum secirity tersebut.

NS pun membantah dirinya tak pernah sama sekali menerima barang bekas atau besi tua dari Caltex. "Besi tua yang ada di pick-up, yang diantar adalah barang bekas pihak PLN. Barang-barang tak terpakai itu, dijual pihak PLN ke kami, karena kami kebetulan kerja sama dengan pihak biro PLN," jawab NS menampik tuduhan itu.

Pernyataan NS tersebut malah tidak ditanggapi oknum security tersebut dan mengklaim bahwa barang bekas yang dimaksud, merupakan barang bekas yang hilang milik PT CPI.

Merasa ngotot, lantas NS mencoba meminta agar pihak security bersama tiga oknum anggota Polri bersenjata lengkap itu untu menunjukkan surat resmi dari pihak perusahaan atau pimpinan security sebagai keabsahan tujuan mereka mendatangi gudangnya. Namun pihak security tersebut tidak bersedia menunjukkan kepada NS.

"Mana surat geledahnya. Ayo kita ambil kalau ada di mobil. Setahu saya, karena termasuk menyangkut wilayah pribadi dan usaha, tentunya secara resmi. Kalau saya kerumah bapak, ada surat atau hal lain tujuan saya datang. Demikian sebaliknya pak," kata NS memberikan penjelasan perihal keabsahan kedatàngan memeriksa gudangnya.

Tak sampai disitu dirinya mau dipegang oknum yanģ memegang tangannya, anggotanya tak rela. "Saya masih ngotot minta surat resmi. Kalau ada surat perintah, saya pasti tidak ngotot seperti ini," jawab NS.

Selanjutnya, oknum securiti berembuk dengan kawan-kawan termasuk oknum aparat yang datang menyandang senjata lengkap bersama oknum personil Polsek Minas.

NS pun menceritakan dirinya dan istri beserta anak merasa tak nyaman, lantas menghubungi saudaranya yang bertugas di salah satu angkatan di Pekanbaru.

"Mereka datang bertiga, saya minta mereka datang, karena anak saya nangis-nangis dan istrinya takut dan trauma. Saudara saya itupun minta penjelasan dari pihak security tadi dalam rangka apa untuk mendatangi gudang tersebut sembari menanyakan apakah saudara saya ini dianggap teroris, sehingga kedatangan aparat seperti ini. Dan saudara saya itu pun meminta diakhiri," pungkas NS.

NS menegaskan, kedatangan saudaranya ke gudang maupun ke rumahnya, hanyalah bersifat keluarga dan meminta menenangkan ketakutan keluarga.

"Karna istri saya ketakutan dan anak, karena kami didatangi oknum-oknum aparat dilengkapi dengan senjata lengkap. Kami bukan teroris. Kalau ada masalah bisa duduk bersama dan tahu sebab musababnya," ulasnya.

Ia menyatakan, usaha barang bekas atau lebih dikenal usaha besi tua, sepengetahuannya tak pernah menerima atau membelinya. "Kalau saya tahu itu barang bekas dari chevron, saya tak niat belinya. Setahu saya tak pernah beli barang bekas dari Caltex dan menyuruh orang mencuri barang-barang bekas agar dijual dan diantar ke gudang saya," sebutnya.

Tepisah, Kanitreskrin Polsek Minas, Dafris, membenarkan adanya kejadian tersebut “Iya benar. Kedatangan kami kesana (tempat kejadian-red) atas laporan pihak security Chevron," kata Kanitreskrin Polsek Minas, Dafris, Minggu, (19/4/2020).

Ia mengatakan, kejadian itu, karena pihak security Chevron mengaku kehilangan semacam kabel. Pihak PLN sudah diminta klarifikasi bahwa kabel yang diklaim hilang oleh securiti ada di gudang tersebut, ternyata milik pihak PLN ia menjelaskan.

Sementara, pihak Humas PT. CPI saat dikonfirmasi terkait kejadian tersebut, hingga berita ini diturunkan, belum berhasil memberi tanggapan.***

Tags :berita
Komentar Via Facebook :

Berita Terkait