Home / Pendidikan / Mendikbud Keluarkan SE PPDB 2019, Zonasi 90 Persen Jadi 80

Mendikbud Keluarkan SE PPDB 2019, Zonasi 90 Persen Jadi 80

Mendikbud Keluarkan SE PPDB 2019, Zonasi 90 Persen Jadi 80
Ist
ILustrasi, Kemendikbud Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Surat Edaran Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2019.

Pekanbaru, Oketimes.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), akhirnya merevisi peraturan Menteri, penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) nomor 51/2018. Setelah direvisi, Surat Edaran Kemendikbud Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Surat Edaran Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2019.

Jika sebelumnya di Permendikbud, jalur zonasi yang ditetapkan 90 persen, 5 persen jalur prestasi dan 5 persen jalur pindah tugas orangtua/ wali, maka kini mengalami perubahan dimana untuk jalur zonasi 80 persen, jalur prestasi 15 persen dan jalur pindah orangtua 5 persen.

"Ya, dalam surat itu revisi penerimaan jalur prestasi di tambah dari 5 persen menjadi 15 persen. Tapi untuk jalur zonasi tetap dijalankan tapi berkurang menjadi 80 persen, dan jalur pindah orang tua tetap 5 persen," kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau, Rudyanto pada awak media Senin 24 Juni 2019.

Dia mengatakan, perubahan ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) dari Mendikbud untuk revisi PPDB tahun 2019 ini dan berharap kepada seluruh Kabupaten/Kota untuk mengikuti surat edaran yang telah dikeluarkan oleh Mendikbud.

Menurutnya, SE tersebut keluar setelah pihaknya melakukan pertemuan dengan Kepala Sekolah dan Kabupaten Kota untuk PPDB Kamis lalu, sementara SE tersebut diterbitkan pada Jumat kemarin.

"PPDB kan dari tanggal 1 sampai 4 Juli, dan masyarakat juga bisa memahami apa yang telah menjadi peraturan pemerintah untuk PPDB. Masih ada waktu mensosialisasikannya," terang Rudy.

Sebelumnya, PPDB tahun 2019 sesuai Permendikbud jalur zonasi 90 persen tersebut tidak berdasarkan nilai siswa. Berapapun nilai siswa yang akan masuk ke sekolah yang masuk dalam zonasi wajib diterima. Minimal 500 meter dari sekolah tempat tinggalnya, begitu juga untuk warga kurang mampu diperbolehkan lebih dari zona minimal.

Sistem zonasi menjadi basis data dalam perumusan kebijakan yang berkaitan dengan peta sebaran distribusi guru, ketersediaan sarana prasarana dan fasilitas sekolah, termasuk wajib belajar 12 tahun. Dan tidak ada lagi perbedaan sekolah favorit yang menampung khusus siswa dengan nilai tertinggi.

"Jadi tidak ada ketimpangan dengan stigma sekolah favorit dan tidak favorit. Tujuan sistem zonasi, untuk menghilangkan dikotomi antara sekolah favorit dan nonfavorit. Menghilangkan eksklusifitas dan diskriminasi sekolah. Berupaya menjadikan semua sekolah sama baiknya dari seluruh Indonesia," ulas Rudy.***


Reporter : Richarde
Editor     : Cardoffa

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.