Home / Lingkungan / Wagubri Minta Tim Satgas Tingkatkan Koordinasi dan Cegah Karhutla

Hadiri Rapat Evaluasi Penanggulangan Karhutla Riau Bersama Tim BNPB Pusat

Wagubri Minta Tim Satgas Tingkatkan Koordinasi dan Cegah Karhutla

Wagubri Minta Tim Satgas Tingkatkan Koordinasi dan Cegah Karhutla
Humas Setdaprov Riau For oketimes.com
Guna mengetahui kondisi terkini Penanggulangan dan Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di Riau, Tim Satgas Karhutla Provinsi bersama Tim Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) Pusat, menggelar Rapat Evaluasi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Selasa 10 September 2019 di Komplek Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru.

Pekanbaru, oketimes.com - Guna mengetahui kondisi terkini Penanggulangan dan Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di Riau, Tim Satgas Karhutla Provinsi bersama Tim Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) Pusat, menggelar Rapat Evaluasi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Selasa 10 September 2019 di Komplek Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru.

Acara tersebut dihadiri Wagubri H Edy Nasution didampingi Danrem 031 WB Brigjen TNI Muhammad Fadjar, Kepala BNPB Riau, BPBD Edwar Sanger, Kepala BMKG Sukisno, KBP Widodo dari perwakilan Polda Riau dan Tim BNPB Pusat serta instansi terkait di Posko Penanganan Darurat Bencana Karhutla Provinsi Riau Komp Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru.

Dalam rapat tersebut, Kepala BMKG Provinsi Riau Sukisno menyebutkan kondisi cuaca saat ini merupakan puncak dari musim kemarau pada tahun 2019, sehingga pada bulan Oktober mendatang perubahan siklus cuaca akan memasuki musim penghujan secara umum dan titik panas di dominasi dari wilayah Riau bagian selatan.

Sedangkan Kepala BPBD Provinsi Riau Edwar Sanger, mengatakan dari 12 Kabupaten Kota yang ada di Riau, ada dua daerah yang kondusif dan tidak mempunyai titik api seperti di Kabupaten Rokan Hulu dan Kuansing.

Ia juga berpesan kepada mahasiswa agar dapat berkolaborasi dengan BPBD untuk mensosialisasikan pencegahan karhutla kepada masyarakat sekitar lahan rawan karhutla.

Dipaparkan Ewdar Senger, perbandingan luas lahan yang terbakar antara tahun 2019 dengan 2018 jauh berbeda dengan tahun ini. Dimana pada tahun 2019 ini, pihaknya mencatat luas areal  Karhutla terbakar 6,541,76 hingga 5,776,46 hektar pada tahun 2018 lalu.

Menurutnya, adapun rincian seperti di Kabupaten Rokan HIlir tahun 2019 terdapat 11,221 hektar dan 95-1,985,35 ha pada tahun 2018. Rokan Hulu 34, 25 hinga 99 ha pada tahun 2018.

Tahun 2019 Dumai 329,25 hingga 512,25 ha pada tahun 2018. Bengkalis 1,764,84-576,95 ha. Meranti 349,7- 963,56 ha. Siak 793,7-157,25 ha. Pekanbaru 174,99-52,6 ha. Kampar 233,53- 127 ha. Pelalawan 344- 266,5 ha. Inhu 414,1-576 ha. Inhil 866,35-458 ha. Kuansing 15,1-2 ha.

"Untuk mencegah Karhutla di tingkat bawah, lebih efektif dibandingkan dengan pemadaman karhutla," pungkas Edwar.

Sedangkan Satgas Udara dari Lannud RSN Pekanbaru, menyimpulkan bahwa pelaksanaan water boombing akan lebih efektif dan efisien, jika dilaksanakan dengan metode pendorongan fuel ke spot yang mendekati lokasi kebakaran, karena akan menambah jam operasional misi Water Boombing di lokasi Karhutla.

Dengan demikian, jumlah Water Boombing dengan dorong fuel akan lebih banyak. hal ini sesuai dengan perbandingan dengan total jam terbang 03.03 dengan total WB 20, sedangkan dengan Dorong Fuel dengan total jam terbang 03.05 dengan total sebanyak 45 kali Water Boombing.

Satgas Udara juga menyampaikan bahwa terjadi peningkatan luas Karhutla 1418.15 ha dari tahun sebelumnya 4571,5 ha dengan total luas Karhutlan tertanggal 10 september 2019 seluas 5989,65 hektar.

Sementara laporan dari Tim P3E Sumatera Kementerian LHK, menyampaikan bahwa Data ISPU per tanggal 10 September 2019 di Kabupaten Siak yang berlokasi di Minas berkonsentrasi 378 mikrometer atau setara ISPU 237 mm dengan Kesimpulan Siak ISPU sangat tidak sehat..

Kemudian di Kabupaten kampar berlokasi di Petapahan dengan konsentrasi 223 atau setara ISPU 137 mm dengan Kesimpulan Kampar ISPU Tidak sehat.

Selanjutnya, di Kota Dumai berlokasi di Dumai dengan konsentrasi 635 mm atau setara ISPU >300 dengan Kesimpulan Dumai ISPU Berbahaya.

Kabupaten Rokan Hilir berlokasi di Bangko dan Libo dengan konsentrasi 107 dan 292 setara ISPU 79 dan 171 dengan Kesimpulan Rohil ISPU Sedang hingga tidak sehat.

Kabupaten Bengkalis berlokasi di Duri Camp dan Duri Field dengan konsentrasi 462 dan 381 setara ISPU >300 dan 244 dengan Kesimpulan Bengkalis ISPU Sangat tidak sehat Hingga berbahaya.

Terkait hal itu, P3E Sumatera Kementerian LHK dari hasil pemantauan ISPU 10 September 2019 pada pukul 07.00 Wib, berkesimpulan bahwa Kualitas Udara masih batas ambang di provinsi Riau pada kondisi SEDANG hingga Berbahaya.

Distribusi sebaran ISPU Siak SANGAT TIDAK SEHAT, Kampar TIDAK SEHAT, Dumai BERBAHAYA, Rohil SEDANG hingga TIDAK SEHAT, Bengkalis SANGAT TIDAK SEHAT hingga BERBAHAYA. Dimana tingkat kualitas udara secara umum dapat merugikan kesehatan yang serius.

Sementara itu, Tim Satgas Darat yang disampaikan oleh Danrem 031WB Brigekn M Fadjar mengatakan bahwa perlu adanya kepedulian masyarakat terhadap situasi saat ini dan kedepannya. Sehingga ia berharap kepada korporasi yang berusaha di wilayah sekitar harus, ikut berkontribusi baik moril maupun materil terhadap  karhutla saat ini.

Wagubri Edy Afrizal Natar Nasution dalam sambutan dan arahannya mengatakan kepada Satgas Darat, Satgas Udara, Satgar Gakkum serta Instansi Pemerintah baik Pusat dan daerah maupun Korporasi, agar bersama sama bahu membahu memadamkan Karhutla saat ini.

"Tingkatkan koordinasi cegah Karhutla dengan lebih baik untuk memadamkan api," tegasnya mengakhiri.***


Reporter  : Richarde
Editor       : Cardova

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.