Home / Sosial / PT NWR dan SGI Minta Maaf, Wartawan MNC Group Ajukan Tiga Poin ke Perusahaan

Kasus Insiden Penganiayaan dan Perusakan Kamera Wartawan MNC Vs Security PT NWR dan SGI

PT NWR dan SGI Minta Maaf, Wartawan MNC Group Ajukan Tiga Poin ke Perusahaan

PT NWR dan SGI Minta Maaf, Wartawan MNC Group Ajukan Tiga Poin ke Perusahaan
Disediakan oketimes.com
Dari kiri ke kanan : Tony Hidayat, Indra Yose, Abdul Hadi Perwakilan Manajemen PT Nusa Wana Raya didampingi PT Security Group Indonesia (PT SGI) Suherman Gunawan, saat menggelar konferensi Pers atas insiden yang dialami Wartawan MNC Group di Pekanbaru, Senin (10/02/2020).

Pekanbaru, Oketimes.com - Insiden dugaan penganiayaan dan perampasan serta pengurusakan kamera Wartawan MNC Group kontributor Pekanbaru, yang dialami oleh Indra Yose dengan pihak Security PT Nusa Wana Raya (NWR) saat melaksanakan peliputan di lokasi eksekusi lahan Desa Gondai Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan, Riau pada Rabu (04/02/2020) lalu, tampaknya berujung 'damai'.

Pasalnya, manajemen PT Nusa Wana Raya (NWR) bersama PT Seurity Group Indonesia (SGI), menyampaikan permohonan maaf dan sekaligus menyangkan insiden tersebut terjadi antara Indra Yose dengan pihak security SGI saat melakukan tugas jurnalistiknya di Desa Gondai Langgam Pelalawan.

Permohonan maaf tersebut, disampaikan Abdul Hadi mewakili Manajemen PT Nusa Wana Raya (NWR) didampingi pihak PT Security Group Indonesia (PT SGI) Suherman Gunawan kepada masyarakat luas, para Insan Pers seluruhnya, Organisasi Wartawan, khususnya Wartawan di Riau serta Indra Yose selaku korban.

"Atas nama manajemen perusahaan dan pribadi, kami memohon maaf atas insiden yang dialami saudara kami Indra Yose Wartawan MNC Group yang menjadi korban penganiayaan saat melakukan tugasnya," kata Abdul Hadi didampingi Suherman Gunawan dalam Konferensi Persnya, Senin (10/2/2020) di Pekanbaru.

Hadir dalam konferensi pers itu, Pengurus Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Perwakilan Riau, yang diwakili oleh Yudi Saputra alias Bogel, Sekretaris PWI Riau Amril Jambak, Perwakilan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan sesepuh media televisi Riau Tony Hidayat, serta Indra Yose selaku korban.

Disampaikan Abdul Hadi, pada intinya pihak perusahaan PT NWR dan SGI, tidak ada niat menghalangi tugas jurnalistik atau peliputan awak media di lokasi konflik lahan pasca eksekusi yang dilakukan tim Gakkum bersama instansi terkait di atas lahan yang di klaim pihak lain (PT Peputra Supra Jaya_red).

"Apalagi sampai melakukan tindakan penganiayaan dan perusakan alat tugas wartawan, seperti alat perekam video camera dan lainnya. Dan kami sangat menyangkan insiden tersebut bisa terjadi," tegas Abdul Hadi sembari diamini oleh Suherman Gunawan dari pihak PT SGI.

Meski begitu lanjut Abdul Hadi, pihak manajemen meminta manajemen security untuk terus melakukan investigasi secara internal dan melakukan hal-hal yang menuju perbaikan kedepannya.

Disamping itu, pihaknya juga menyampaikan permohonan maaf kepada Indra Yose begitu juga dengan rekan media, organisasi Pers dan lainnya.

Terkait proses hukum yang sedang berlangsung lanjut Abdul Hadi, pihaknya menghargai proses hukum yang sedang berjalan dan tidak akan melakukan intervensi terhadap proses hukum yang sedang berjalan itu pula nantinya.

"Kami selaku pihak perusahaan secara pribadi dan secara institusi, masih berharap mudah-mudahan masih ada proses-proses yang ditempuh dengan jalur yang lebih baik," ucap Abdul Hadi.

Hal senada juga disampaikan oleh Suherman Gunawan mewakili manajemen PT Security Group Indonesia (SGI).

Ia menyatakan bahwa pihaknya merupakan perusahaan jasa pengamanan yang mendapat tugas untuk melakukan pengamanan di lahan klaim PT PSJ di Gondai Kecamatan Langgam Pelalawan.

Akan tetapi lanjut Suherman, pihak PT SGI sangat menyayangkan adanya insiden yang dialami oleh Indra Yose dengan pihak security saat itu. Sebab saat itu telah terjadi 'Mist Comunication' dengan pihak Securiti dan Wartawan TV MNC Group Indra Yose yang mengakibatkan korban cidera dan peralatan camera video mengalami kerusakan.

"Atas insiden itu, kami sangat menyesali hal itu terjadi dan kami memohon maaf atas peristiwa yang dialami oleh Indra Yose, serta memohon maaf kepada seluruh rekan-rekan pers di Indonesia, organisasi Pers secara keseluruhan atas insiden dan mist komunikasi yang terjadi saat itu," tutur Suherman mengawali permohonan maafnya.

Tak sampai disitu, Suherman juga menyampaikan permohonan maaf kepada PT NWR yang sudah membuat situasi yang tidak inginkan tersebut dan semoga kejadian tersebut, tidak terjadi lagi kedepan harinya.

Selain itu sambung Suherman, pihaknya juga akan segera melakukan investigasi secara internal atas insiden tersebut, guna mengusut bila mana ada security yang berbuat salah, pihak manajemen akan segera melakukan tindakan tegas.

"Sekali lagi, kami atas manajemen PT SGI meminta mohon maaf kepada seluruh insan pers se Indonesia, organisasi pers, khususnya Wartawan MNC Group dan Indra Yose, dan semoga hal ini tidak terjadi lagi di kemudian hari," tutur Suherman.

Ajukan Tiga Tuntutan

Sementara itu, Toni Hidayat selaku sesepuh Wartawan Televisi Riau sekaligus mewakili dari pihak keluarga Indra Yose, mengatakan bahwa tindakan menghalangi bahkan melakukan penganiayaan terhadap wartawan saat melakukan tugas jurnalistik adalah tindakan melawan hukum dan kriminal.

Dimana dalam pasal 4 dan pasal 5 UU Pers Nomor 40 tahun 1999 itu, adalah fungsi Pers itu adalah sebagai sosial kontrol. Sedangkan di pasal 18, disebutkan bahwa bagi siapa yang mengalangi tugas Pers akan dikenakan sanksi pidana minimal 2 tahun penjara dan denda Rp 500 juta.

Terkait kasus yang dialami Indra Yose Wartawan MNC Group sambung Tony Hidayat, perbuatan yang dilakukan pihak security perusahaan PT WNR atau PT SGI sudah melampaui tidakan kriminal. Dimana, jika diterapkan kedua pasal tersebut, pihak manajemen PT WNR dan PT SGI dapat dikenakan sanksi pidana yang cukup berat.

"Sebab selain melanggar pasal 4, 5 dan 18 UU Pokok Pers Nomor 40 tahun 1999, pidana umum lainnya juga bisa diterapkan dengan pasal penganiayaan dengan ancaman maksimal 5 tahun penjara," ulas Tony.

Meski begitu, Tony Hidayat selaku sesepuh Media Televisi di Riau dan mewakili korban Indra Yose, mengatakan hal tersebut tidak akan dilakukan, mengingat segala masalah tidak harus diselesaikan secara hukum, akan tetapi akan dilakukan secara permusyawarahan dengan menyampaikan tiga tuntutan kepada pihak manajemen PT WNR dan PT SGI.

Pertama lanjut Tony, agar pihak perusahaan melakukan penyelidikan internal kepada pihak manajemen yang terkait, agar memberikan tindak tegas kepada yang bersangkutan untuk tidak melakukan tindakan yang kriminal saat melakukan tugasnya.

"Jika terus dilakukan, maka akan menjadi presiden buruk bagi internal dan bagi manajemen perusahaan yang dapat mempengaruhi citra buruk bagi perusahaan yang dimaksud," ulas Tony kembali.

Lantaran itu lanjut Tony, dirinya meminta manajemen perusahaan PT WNR untuk memberikan sanksi kepada manajemen terkait (PT SGI), karena tindakan yang dilakukan PT SGI sudah tindakan kriminal.

Kedua lanjut Tony, pihak perusahaan segera melakukan permohonan maaf secara luas kepada publik, tidak hanya kepada Indra Yose atau pihak keluarga saja. "Akan tetapi pihak perusahaan harus meminta permohonan maaf kepada seluruh Insan Pers seluruhnya," tegas Toni.

Sedangkan yang ketiga sebut Tony, apapun konsekuensi terhadap yang dialami Indra Yose, seperti dirinya mengalami cidera, serta kerusakan alat perekam (video camera_red), pihak perusahaan harus bersedia menggantinya dan menjadi tanggungjawab pihak perusahaan atas kerugian materi dan materil yang dialami oleh Indra Yose.

"Kami pikir ketiga tuntutan tersebut masih terjangkau dan tidak memberatkan. Sebab ketiga tuntutan yang kami sampaikan tersebut, akan disanggupi, karena masih sangat normatif," ungkap Tony Hidayat.

Jangan Anggap Remeh

Sebagai penutup, mantan Perwakilan Metro TV Pekanbaru itu juga menyebutkan, insiden yang sudah dialami oleh Indra Yose agar tidak terulang lagi di kemudian hari dan meminta pihak perusahaan, instansi terkait, untuk tidak memandang 'remeh' tugas Wartawan atau Jurnalistik yang hendak melakukan tugasnya dimana pun berada.

"Karena tugas Wartawan itu adalah sosial kontrol dan memiliki payung hukum yang jelas berdasarkan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers," tegas Tony Hidayat meyakinkan.***
          

Penulis    : Ndanres Area
Editor      : Van Hallen                                         

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.