Fenomena Langit Merah di Jambi Viral, Ini Penjelasan BMKG
Foto Inset : Fenomena langit berwarna merah di sejumlah desa di Kecamatan Kumpe Kabupaten Muaro Jambi, sejak Sabtu 21 hingga Minggu 22 September 2019, menjadi viral dan foto titik api yang tersebar di Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi dari BMKG rekomendasi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)
Jambi, Oketimes.com - Fenomena langit berwarna merah di sejumlah desa di Kecamatan Kumpe Kabupaten Muaro Jambi, sejak Sabtu 21 hingga Minggu 22 September 2019, menjadi viral dan ramai diperbincangkan kalangan masyarakat luas hingga kini.
Fenomena alam tersebut pun cepat beredar ke tengah publik, terutama lewat jejaring media sosial seperti facebook, twittter dan instagram dan lainnya.
Informasi yang dirangkum, ternyata langit merah itu diduga kuat, akibat banyaknya jumlah titik api atau hotspot yang menyala dan tersebar di berbagai daerah Kabupaten Jambi sehingg terlihat sangat mengerikan.
Meski begitu, memerahnya langit Muaro Jambi bukan tanpa sebab. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyebutkan bahwa fenomena itu, terkait dengan kabut asap yang sedang menyelimuti wilayah tersebut.
"BMKG mencatat hal tersebut peristiwa yang dapat dijelaskan secara ilmiah," demikian tulis BMKG melalui akun Instagram @infobmkg, Minggu 22 September 2019.
Menurut BMKG, berdasarkan hasil analisis citra satelit Himawari-8 tanggal 21 September, di sekitar Muaro Jambi, terlihat banyak titik panas. "Dan sebaran asap yang sangat tebal."
Pertanyaannya kenapa berbeda dengan daerah lain, seperti di provinsi Riau, Kalimantan dan provinsi lainnya. BMKG menyebutkan bahwa asap akibat kebakaran hutan dan lahan Muaro Jambi berbeda dari daerah lain, karena berdasar pantauan satelit, asap hasil kebakaran hutan dan lahan di daerah lain berwarna kecokelatan.
Namun di kota Muaro Jambi, asap terlihat putih. Warna ini mengindikasikan bahwa lapisan asap di Muaro Jambi sangat tebal. "Hal ini dimungkinkan, karena kebakaran lahan atau hutan yang terjadi di wilayah tersebut, terutama pada lahan-lahan gambut."
Menurut BMKG, tebalnya asap juga didukung oleh tingginya konsentrasi debu partikulat polutan yang berukuran kurang dari sepuluh mikron (PM10). Sejak tengah malam tadi, di Jambi, pengukuran konsentrasi PM10 = 373,9 ug/m3.
"Kondisi itu, menunjukkan kondisi tidak sehat," terang BMKG twitter nya itu.
Di Pekanbaru bahkan lebih lebih parah lagi, konsentrasi debu polutan PM10 kategori berbahaya, yaitu 406,4 ug/m3.
Langit Muaro Jambi terlihat merah, karena polutan di udara tersebut. Jika ditinjau dari teori fisika, atmosfer pada panjang gelombang sinar tampak.
Langit berwarna merah disebabkan oleh adanya hamburan sinar matahari oleh partikel mengapung di udara yang berukuran kecil (aerosol). " Dikenal dengan istilah Mie Scattering alias hamburan mie."
Mie scattering terjadi jika diameter aerosol polutan di atmosfer sama dengan panjang gelombang dari sinar tampak (visible) matahari.
Panjang gelombang sinar merah berada pada ukuran 0,7 mikrometer. Dari data BMKG, konsentrasi debu partikulat polutan berukuran kurang dari 10 mikrometer sangat tinggi di sekitar Jambi, Palembang, dan Pekanbaru.
Tetapi langit yang berubah merah terjadi di Muaro Jambi. Artinya, debu polutan di daerah tersebut dominan berukuran sekitar 0,7 mikrometer atau lebih dengan konsentrasi sangat tinggi.
Selain konsentrasi tinggi, tentunya sebaran partikel polutan ini juga luas untuk dapat membuat langit berwarna merah.***
Source : Dream
Editor : Van Hallen

Komentar Via Facebook :