Home / Lingkungan / Diselimuti Kabut Asap, Pemprov Riau Gelar Salat Istiqa

Diselimuti Kabut Asap, Pemprov Riau Gelar Salat Istiqa

Diselimuti Kabut Asap, Pemprov Riau Gelar Salat Istiqa
Humas Setdaprov Riau For oketimes.com
Doa Minta Hujan : Wakil Gubernur Riau Edy Afrizal Natar Nasution didampingi pejabat Forkopimda saat menggelar Salat Istisqa atau salat minta Hujan bersama di halaman kantor Gubernur Riau, Rabu (11/9/2019) pagi.

Pekanbaru, oketimes.com - Panjatkan doa untuk meminta hujan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta masyarakat kota Pekanbaru saat menggelar Salat Istisqa (salat minta Hujan) di halaman kantor Gubernur Riau, Rabu (11/9/2019) pagi.

Pelaksanaan Salat Istisqa tersebut, dibanjiri oleh ribuan jemaah yang hadir dengan menggunakan masker, mengingat udara di Pekanbaru dan sekitarnya yang tidak sehat sehingga bisa menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Salat Istiqa itu, diikuti oleh unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Ketua MUI Provinsi Riau M Nazir Karim, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Riau Mahyudin, unsur TNI, Polri, ASN, tokoh masyarakat dan umat Islam lainnya.

Bertindak sebagai Imam adalah Ketua MUI Riau Nazir Karim. Sementara bertindak khatib adalah ustaz Saidul Amin. Salat bermakna bermunajat meminta hujan kepada sang pencipta Allah SWT itu juga di hadiri Wakil Gubernur Riau (Wagubri) Edy Afrizal Natar Nasution, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Riau Uung Abdul Syakur, Danrem 031/WB Brigjen TNI Muhammad Fadjar.

Kemudian hadir juga para pejabat eselon di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau termasuk TNI/Polri. Sementara Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar tak terlihat pada pelaksanaan Salat Istisqa itu.

Khatib Saidul Amin dalam ceramahnya mengingatkan banjir besar yang meland pada zaman Nabi Nuh, waktu itu bukan kerusakan alam akibat pembalakan liar. Karena hutan masih hijau. Tetapi karena umat Nabi Nuh waktu itu ingkar kepada Allah SWT.

Selain itu, pada zaman Nabi Luth, terjadi gempa besar hingga membenamkan umat Nabi Luth saat itu yang menyenangi praktek homoseksual.

Begitu juga pada zaman Nabi Saleh, timbul asap tebal yang menggulung umatnya, bukan karena adanya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Sebab saat itu hutan masih 'perawan'. Tetapi tidak lain, karena Allah sudah murka atas prilaku umat Nabi Saleh yang ingkar.

"Melalui Salat Istisqa ini, hendaknya menjadi momen untuk kembali mengintropeksi diri masing-masing, tanpa terkecuali. Baik pejabat maupun masyarakat," sebut Amin.

Lalu bagaimana dengan kabut asap akibat Karhutla yang terjadi saat ini. Menurut Ustadz Saidul Amin, karena keserakahan tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan seperti membuka lahan dengan cara membakar.

Namun Amin mengingatkan, kemurkaan Allah bisa jadi karena adanya ketidakadilan dalam penanganan hukum. Karena ketika Ada masyarakat kecil yang dianggap melanggar hukum, cepat ditindak. Sementara perusahaan besar justu penegak hukum tutup mata.

"Selain itu, dampak kabut asap yang saat ini terjadi tidak juga sangat mungkin karena Allah murka karena banyaknya kemaksiatan yang terjadi saat ini," pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Riau (Wagubri) Edy Natar Nasution mengatakan dengan diadakannya shalat tersebut, melihat kondisi kabut asap di Riau semakin parah dan memprihatinkan. Diman kabut asap masih menyelimuti Kota Pekanbaru dan beberapa daerah lainnya, dikarenakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Salat ini dalam rangka untuk memohon kepada Allah agar menurunkan hujan supaya bisa memadamkan api di hutan dan lahan yang terbakar. Sehingga kabut asap di provinsi Riau bisa cepat hilang," ulas Wagubri.

Ia berharap dengan digelarnya Salat Istisqa ini semoga hujan segera turun, dan kondisi kabut asap di Provinsi Riau akan cepat kembali pulih.

"Semoga hujan segera diturunkan oleh Allah dan segera menghilang," pungkasnya.***


Reporter  : Richarde
Editor       : Cardova

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.