Home / Internasional / Insiden Penembakan di Elpaso-Ohio, Tewaskan 29 Warga Sipil dan 52 Orang Luka

Insiden Penembakan di Elpaso-Ohio, Tewaskan 29 Warga Sipil dan 52 Orang Luka

Pelaku Layak Terancam Hukuman Mati

Insiden Penembakan di Elpaso-Ohio, Tewaskan 29 Warga Sipil dan 52 Orang Luka
(Reuters/AP/CNN)
Foto Inset : Sosok Patrick Crucius, pelaku penembakan El Paso Texas dan tangisan warga serta aksi prihatin dan bela sungkawa warga kepada para korban penyerangan di kota Epaso Texas dan Ohio Amerika Serikat.

Texas, oketimes.com - Insiden penembakan brutal di kota El Paso, Texas, dan di Dayton, Ohio, Amerika Serikat pada Minggu (4/8/2019) setidaknya merenggut nyawa 29 dan 52 warga sipil luka-luka di wilayah perbatasan AS dan Meksiko itu.

Dalam penembakan di El Paso, sekitar 20 orang meninggal dunia dan aparat penegak hukum setempat mengatakan pelakunya akan dihukum mati. Hal itu dibenarkan Jaksa Distrik Barat Texas, John Bash yang menyatakan bahwa "kami menangani kasus ini sebagai kasus terorisme dalam negeri".

Serangan tersebut tampak "dirancang untuk mengintimidasi, setidaknya, masyarakat sipil," tambahnya. Sementara itu, gubernur Texas Greg Abbott menyebutnya sebagai "salah satu hari paling mematikan dalam sejarah Texas".

Pembantaian terjadi di toko swalayan Walmart dekat Cielo Vista Mall, beberapa mil dari perbatasan AS-Meksiko dan Polisi menahan seorang pria berusia 21 tahun.

Mereka mengatakan, tersangka adalah penduduk kota Allen di wilayah Dallas, sekitar 650 mil (1046km) timur dari El Paso. Media AS melaporkan nama pria itu, adalah Patrick Crusius. Kepada polisi, ia mengaku beraksi sendiri.

Gambar CCTV yang disebut menunjukkan pelaku penembakan dan disiarkan di media AS, menunjukkan seorang pria mengenakan kaus warna hitam, mengenakan penutup telinga, dan mengacungkan senapan serbu.

Identitas para korban belum diungkap. Namun, Presiden Meksiko Manuel Lopez Obrador mengatakan tiga warga Meksiko telah tewas dan enam lainnya terluka dalam serangan tersebut, lansir kantor berita Reuters.

Serangan ini terjadi kurang dari sepekan sejak seorang remaja menembak tiga orang di festival kuliner di California. Penembakan di Texas telah dijuluki sebagai insiden penembakan paling mematikan kedelapan dalam sejarah AS modern.

"Kami sebagai negara bagian bersatu mendukung para korban ini dan anggota keluarga mereka dan Kita harus melakukan satu hal hari ini, satu hal besok, dan setiap hari setelah ini kita harus bersatu," kata Abbot.

Polisi dan FBI menyelidiki apakah "manifesto" nasionalis kulit putih yang dibagikan secara anonim di sebuah forum internet adalah karya si pelaku penembakan. Dokumen tersebut mengatakan serangan itu menyasar komunitas Hispanik lokal.

Sementara itu, pada penembakan yang terjadi di Dayton, Ohio, Minggu (4/8/19) dini hari, beberapa belas jam setelah penembakan di El Paso, sembilan orang dinyatakan tewas, termasuk adik perempuan dari pelaku.

Connor Betts, 24 tahun, yang diidentifikasi sebagai pelaku penembakan, melangsungkan aksinya menggunakan senapan serbu sambil mengenakan pelindung tubuh di luar klub malam setempat, Ned Peppers.

Hingga kini, motifnya belum diketahui. Namun, polisi tidak menemukan adanya indikasi "motif bias" terhadap kelompok tertentu dalam penembakan tersebut.

Pelaku tewas ditembak polisi saat mencoba menerobos masuk ke dalam klub malam itu. Apa yang terjadi?

Kepala Polisi El Paso Greg Allen mengatakan laporan tentang penembakan diterima pada pukul 10:39 waktu setempat (23:39 WIB), dan petugas penegak hukum tiba di tempat kejadian enam menit kemudian.

Saat itu, Walmart penuh dengan pembeli yang membeli perlengkapan sekolah pada saat serangan. Si pria berusia 21 tahun adalah satu-satunya tersangka yang ditahan atas serangan itu, dan polisi mengatakan tidak ada petugas yang melepaskan tembakan ketika menangkapnya.

Greg Allen juga mengatakan para korban terdiri dari warga berbagai usia. Ia menggambarkan situasinya sebagai "mengerikan". Departemen Kepolisian El Paso sebelumnya mengirim twit yang mengatakan bahwa sumbangan darah "sangat dibutuhkan".

Sementara Kianna Long mengatakan ia sedang di dalam Walmart bersama suaminya ketika mendengar suara tembakan.

"Orang-orang panik dan berlari. Mereka mengatakan ada penembak," kata Long kepada kantor berita Reuters. "Mereka berlari sambil menundukkan kepala, orang-orang berjatuhan di lantai."

Long mengatakan dia dan suaminya berlari melalui ruang stok kemudian berlindung bersama pelanggan lain. Kianna Long (kanan) dipeluk oleh seorang saudaranya. Dia bercerita tentang kepanikan di Walmart ketika penembakan terjadi.

Saksi mata lain, Glendon Oakly, mengatakan kepada CNN bahwa ia sedang berada di sebuah toko alat olahraga di dalam pusat perbelanjaan terdekat ketika seorang anak berlari ke dalam "memberi tahu kami ada penembak di Walmart".

Oakly mengatakan tidak ada yang menanggapi klaim anak itu dengan serius, tapi hanya beberapa menit kemudian ia mendengar dua tembakan.

"Yang saya pikirkan hanyalah menyelamatkan anak-anak," katanya. Para pelanggan Walmart keluar gedung sambil mengangkat tangan setelah penembakan massal di El Paso, Texas. Para pelanggan yang syok keluar gedung sambil mengangkat tangan.***


Source  : Reuters/AP/CNN
Editor    : Van Hallen

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.