Akhirnya Korban `Kebiadaban` Itu, Susul Oppung dan Bou-nya ke Pintu Surga

Sejumlah warga Pontianak mengikuti aksi seribu lilin untuk Intan Olivia Marbun di Bundaran Digulis Pontianak, Kalimanta Barat, Selasa 15 November 2016.

Medan, Oketimes.com - Air mata belum lagi surut. Kepergian Intan Olivia, bocah usia 2,5 tahun, korban serangan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, merupakan duka mendalam untuk ketiga kalinya diterima keluarga Banjarnahor di Medan.

"Bulan Oktober 2016 kemarin, Intan sempat datang melayat dibawa kedua orangtuanya ke Medan. Saat itu, mereka melayat Dewi Sartika boru Banjarnahor (34), saudara ayahnya yang tewas akibat dibegal di kawasan ringroad" ujar Agustini Banjarnahor seperti dilansir dari SP, Selasa (15/11).

Agustini yang akrab dipanggil bou (adik atau kakak perempuan dari ayah) oleh Intan ini, mengatakan keponakannya itu sangat dekat dengan saudarinya itu sebelum tewas. Saat acara penguburan, Intan juga sempat mengucapkan selamat jalan kepada bou-nya yang meninggal, persisnya sebelum acara penguburan.

Setelah mengikuti prosesi acara pemakaman Dewi Sartika, orangtua kemudian membawa Intan dan keluarga besar untuk berangkat ke Aek Kanopan, Labuhanbatu Utara (Labura). Masih dalam suasana duka, Rusdaya boru Nainggolan (65), juga meninggal dunia. Ibu dan anaknya itu diyakini telah berbahagia di surga.

"Ibu langsung mengembuskan napas terakhir setelah mendengar kabar bahwa Kak Dewi Sartika meninggal dunia. Jadi, dalam hitungan menit di bulan Oktober itu, dua anggota keluarga tercinta pergi untuk selamanya. Ibu kami yang meninggal itu adalah opung boru si Intan," jelasnya.

Saat itu, Agustini sempat memeluk Intan. Wanita berusia sekitar 28 tahun itu pun sempat bertanya kepada Intan, sebab suhu di badannya terasa hangat. Agustini beranggapan, suhu di tubuh keponakannya itu terasa hangat, karena merindukan Dewi (bou Intan) yang sudah tiada.

"Bou, semoga tenang di surga," ungkap Agustini mengulangi perkataan Intan saat acara pemakaman Dewi Sartika.

Kakaknya itu meninggal, karena kepalanya terbentur aspal setelah dirampok di kawasan ringroad Medan.

Saat itu, Dewi Sartika hendak membeli obat sebelum berangkat ke Labuhanbatu. Dia menumpang becak bermotor. Kemudian, dua orang begal merampas tas Dewi. Korban berusaha mempertahankan tasnya. Terjadi tarik-menarik, Dewi akhirnya terjatuh dari atas becak dan terhempas di aspal.

Tidak lama setelah mendapatkan perawatan medis, Dewi akhirnya mengembuskan napas terakhir. Beberapa menit kemudian, ibunya juga meninggal dunia karena terkejut mendengar kabar anaknya telah tiada.

Dalam kasus perampokan itu, polisi turun melakukan penyelidikan. Dua orang pelaku begal yakni, Bambang Kamsari alias Bembeng (37), warga Jalan Bakti Luhur, Kelurahan Dwikora, Medan Helvetia, dan Surya Andalas alias Acun (23), warga Jalan Setia Luhur, Kelurahan Dwikora, ditangkap beberapa pekan kemudian.

"Kedua pelaku begal ini sudah sering melakukan kejahatan perampokan. Bahkan, bukan hanya satu orang korban perampokan mereka yang tewas. Ada beberapa kasus yang menewaskan korbannya," ujar Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Mardiaz Khusin Dwihananto.

Menurut Agustini, keluarganya sudah menerima penangkapan dua pelaku begal yang menewaskan kakaknya tersebut. Mereka sedikit lega meski tidak bisa menyembunyikan duka mendalam akibat kejadian itu. Mereka menangis dan kembali menangis ketika mendengar kabar bahwa Intan akhirnya meninggal akibat serangan bom molotov di Gereja Oikumene Samarinda.

"Keluarga besar sangat shock, sebab berita duka ini datangnya bertubi-tubi dalam kurun waktu dua minggu ini. Kami tidak menyangka, kedatangan Intan di bulan Oktober kemarin, merupakan kenangan dan perpisahan terakhir buat keluarga besarnya. Oh Tuhan, ini sangat menyakitkan," katanya menangis.

Agustini juga mengaku mendapatkan firasat yang kurang baik sebelum mendengar keponakannya itu meninggal dunia. Awalnya, dia membaca berita melalui internet yang menyebutkan ada serangan bom molotov di Gereja Oikumene di Samarinda.

"Saya sudah pernah tinggal di rumah mereka dan beribadah di gereja tersebut. Makanya, begitu mendapat kabar dari berita itu, saya langsung menghubungi abang saya, ayahnya Intan. Saya telepon tidak diangkat, kemudian di-SMS pun tak dibalas. Saat itu, tubuh saya langsung lemas," jelasnya.

Sesuai penjelasan saudaranya, Intan sempat menjalani operasi. Namun, nyawanya tidak tertolong. Selamat jalan Intan.***/spc.


Tags :berita
Komentar Via Facebook :

Berita Terkait