Plt Gubri Hadiri Sosialisasi Implementasi Masyarakat Ekonomi Asean di Jakarta

Plt Gubri H Arsyadjuliandi Rachman pada saat menghadiri kegiatan Sosialisasi Peluang dan Tantangan Masyarakat Ekonomi Asean 2015 digelar oleh Kemenko Perekonomian R.I di Jakarta, Selasa (03/11/2015).

Jakarta, Oketimes.com - Asean kini memiliki babak baru, sepuluh negara yang ada di kawasan Asia Tenggara ini akan terintergrasi dalam satu komunitas yang disebut Asean Community di penghujung tahun 2015.

Asean community terdiri dari 3 Pilar yaitu, Pilar Politik Hukum dan Pertahanan/Keamanan (Polhukam), Pilar Sosial Budaya, dan Pilar Ekonomi. Meski demikian Pilar yang paling banyak dipertanyakan dan dipersoalkan adalah pilar Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

MEA merupakan kesepakatan negara-negara anggota Asean untuk membebaskan arus barang dan Jasa, investasi, modal, dan tenaga terampil, sehingga tidak ada lagi hambatan tarif dan nontarif. Tujuannya untuk meningkatkan perekonomian di kawasan melalui peningkatan daya saing di kancah internasional agar ekonomi bias tumbuh merata sehingga taraf hidup masyarakat juga meningkat.

Dalam menghadapi peluang dan tantangan MEA tahun 2015, Pelaksanaan Tugas (PLT) Gubernur Riau H. Arsyadjuliandi Rachman menghadiri program acara Sosialisasi Implementasi Masyarakat Ekonomi Asean yang diselenggarakan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Darmin Nasution, di Hotel Borobudur Jakarta Pusat, Selasa (03-11-2015).

Dalam acara bertetemakan "Peluang dan Tantangan" kegiatan ini dibuka oleh menko bidang perekonomian RI, Darmin Nasution dan dihadiri  Kepala daerah dan kepala SKPD se-Indonesia, Kadin, Civitas Akademika, pejabat Lembaga dan kementrian RI, Otoritas Jasa Keuangan, Perwakilan Bank Indonesia dan Nara sumber dari 7 Negara anggota Asean.

Menko bidang perekonomian Darmin Nasution mengatakan, dalam mempersiapkan tantangan ini pemerintah pusat dan daerah harus terus melakukan evaluasi untuk menghasilkan kebijakan tentang ekonomi dengan kajian kajian Akademisi untuk menjadikan lebih baik, dan harus mengembangkan mekanisme SDM, dengan pelatihan dengan standard kompetensi yang jelas dengan adanya sertifikasi.

" Saya harapkan semua pemangku kepentingan memiliki kesadaran dan persepsi yang sama terhadap peluang dan tantangan yang tidak hanya dihadapi tetapi juga dilalui serta manfaatnya bagi Indonesia. Melalui kegiatan ini kita semua memiliki kesadaran mental, untuk melalui tantangan dalam menghadapi masyarakat Ekonomi Asean," ungkap Darmin Nasution.

Masyarakat Ekonomi Asean berlaku di penghujung tahun 2015, tepatnya 31 Desember 2015. MEA adalah suatu kerjasama regional Asia Tenggara di bidang Ekonomi yang ditransformasi menjadi kesatuan kekuatan baik sebagai pasar tunggal maupun pusat produksi. Tujuannya adalah, menjadikan Asean menjadi kawasan dengan ekonomi yang berdaya saing disertai pertumbuhan yang lebih setara di seluruh negara anggotanya dan terintergrasi dengan lebih baik dengan pasar global.

Dalam kesempatan ini Plt Gubernur Riau H. Arsyadjuliandi Rachman mengatakan, masyarakat Ekonomi Asean terdiri dari 4 Pilar yang terkait satu dengan lainnya yaitu: Pilar 1: Pasar tunggal dan berbasis produksi, Pilar 2: Kawasan Ekonomi yang berdaya saing, Pilar 3: Pembangunan Ekonomi yang merata, dan Pilar 4: Integrasi dengan Ekonomi Global.

" MEA 2015 merupakan sebuah proses, bukan sebuah event. Setelah 2015, yang merupakan target Politik pemimpin Asean, proses integrasi Asean tidak akan terhenti namun justru akan semakin intensif. Proses tersebut pada intinya akan membuat Asean menjadi semakin atraktif, berdaya saing tinggi dan efektif sehingga dapat senantiasa relevan dalam persaingan ekonomi global," ungkap Plt Gubri.

Beberapa hari sebelumnya, Senin 2 November 2015, Plt Gubri menggelar Rapat Koordinasi (rakor) Camat se-provinsi Riau di Pekanbaru. Dalam Rakor ini Plt Gubri mensosialisasikan kepada Camat se-provinsi Riau dalam menghadapi tantangan MEA provinsi Riau akan mengembangkan dan mempromosikan wisata barbasis Budaya.

Menurut Plt Gubri wisata berbasis budaya punya pengaruh dan peranan penting untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Terutama saat proses Masyarakat Ekonomi Asean berjalan.

" Riau punya potensi wisata budaya yang menarik, pemprov Riau telah menganggarkan dana APBD melalui dinas terkait untuk mengembangkan objek Wisata dan meningkatkan infrastruktur pendukungnya untuk mewujudkan Riau The Homeland of Melayu serta menjadi pusat budaya melayu di Asean sesuai visi Riau 2020," kata Plt Gubri.

Kesiapan Indonesia dalam menyongsong MEA 2015 telah mendapat komitmen yang tinggi dari Presiden RI, yakni dengan dikeluarkanya serangkaian instrument kebijakan sebagai acuan para Kementrian dan Lembaga dan pemerintah daerah serta pemangku kepentingan lainya untuk mendorong sinergi dalam meningkatkan kesiapan Indonesia menghadapi MEA 2015.

Menurut data Direktorat jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan R.I, ada beberapa sektor tantangan dan Peluang Indonesia dalam MEA 2015 diantaranya;

INFRASTRUKTUR

Untuk infrastruktur kelemahan mengemuka dikarenakan oleh beberapa hal seperti, belum semua kapasitas bandara mampu melayani lonjakan penumpang, terbatasnya anggaran dalam pembangunan infrastruktur daerah, kurangnya konektivitas Provinsi dan pulau, minimnya konektivitas antar Negara dalam kerjasama sub regional, kurangnya ketersediaan pasokan energi dan listrik, dan minimnya peran swasta pengembangan infrastructure seperti melalui skema Publik Private partnership (PPP).

Namun demikian, Peluang dalam Bidang infrastruktur pun tetap terbuka dan dapat dimanfaatkan bersama. Sebagaimana telah ditetapkan dalam RPJM 2015-2019,  pemerintah Indonesia akan membangun infrastruktur yang dipastikan akan mempercepat upaya peningkatan daya saing Nasional, diantaranya yaitu; transportasi massal yang terintergrasi di 6 kota besar di Indonesia, pembangunan tol laut dan pembangunan 24 pelabuhan, pembangkit tenaga listrik 35.000 Mega Watt, Reformasi pembebasan lahan, dan oprasionalisasi pelayanan satu pintu.

KEBIJAKAN PEMERINTAH

Pada tataran pemerintah misalnya, sudah cukup banyak regulasi yang dikeluarkan untuk menyokong upaya tersebut, diantaranya dengan dikeluarkanya inpres No.5/2008 tentang fokus program ekonomi, inpres No.11/2011 tentang Pelaksanaan cetak biru masyarakat ekonomi Asean, program pembangunan MP3EI, Inpres No.6/2014 tentang peningkatan Daya Saing Nasional dalam rangka menghadapi MEA.

SUMBER DAYA MANUSIA (SDM)

Dari sisi internal terdapat pula kelemahan di sektor SDM, diantaranya banyak tenaga kerja yang belum bersertifikasi, banyak tenaga kerja yang berpendidikan dan berketrampilan rendah, pengetahuan dan prosedur sertifikasi masih minim, dan biaya sertifikasi yang cendrung mahal.

DAYA SAING PRODUK UNGGULAN

Dari sisi produk unggulan, kelemahannya seperti penggunaan teknologi masih minim, masih kurangnya promosi produk terutama produk-produk UKM, pengusaha masih tergantung pada komoditas primer atau produksi produk dengan nilai tambah kecil, hanya berorientasi pada pasar domestik, minimnya pengetahuan pengusaha akan peluang Asean, cendrung memilih jadi importir dari pada produsen, dan daya saing usaha di sektor jasa yang masih tertinggal dan adanya kesamaan produk unggulan dengan beberapa Negara tetangga, pesaing memiliki teknologi yang lebih canggih.

KOORDINASI PEMERINTAH PUSAT-DAERAH.

Kelemahan dan ancaman pun menjadi warna dalam area koordinasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Adapun faktor kelemahan diantaranya seperti, peran provinsi belum optimal dan merata di era otonomi daerah, pendelegasian kewenangan pusat -daerah belum optimal, pengawasan sumber daya alam belum maksimal, belum optimal nya pengetahuan akan kesepakatan internasional, masalah perizinan usaha yang tidak singkron antara pusat-daerah, dan kewenangan dipegang oleh pejabat yang inkompeten. (rls/ars)


Tags :berita
Komentar Via Facebook :

Berita Terkait