Home / Peristiwa / Dinilai Tak Becus Tangani Asap dan Karhutla di Riau, Mahasiswa Desak Gubri-Kapolda Turun dari Jabatannya

Dinilai Tak Becus Tangani Asap dan Karhutla di Riau, Mahasiswa Desak Gubri-Kapolda Turun dari Jabatannya

Dinilai Tak Becus Tangani Asap dan Karhutla di Riau, Mahasiswa Desak Gubri-Kapolda Turun dari Jabatannya
Istimewa
Foto Inset : Ratusan gabungan Mahasiswa dari berbagai Universitas di kota Pekanbaru, saat menggelar aksi demo di depan Kantor Gubernur Riau dan Mapolda Riau, guna mendesak kedua pejabat tersebut turun dari jabatannya lantaran tak becus menangani kasus Karhutla dan Asap yang melanda Riau selama beberapa pekan terakhir ini di Riau Jumat 13 September 2019 sore.

Pekanbaru, oketimes.com - Geram atas lambannya penanganan Asap dan Karhutla yang melanda Riau dalam beberapa pekan terakhir ini, ratusan massa gabungan Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Riau, mendatangi dan menggelar aksi demo ke Kantor Gubernur dan Mapolda Riau Jumat (13/09/19) sore.

Ratusan massa yang bergabung melawan Asap dan Karhutla itu, terdiri dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dari Komisariat Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Suska dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadyah, dan Universitas Negeri Riau (UNRI).

Dalam orasinya di depan pintu masuk gerbang Kantor Gubernur Riau, para mahasiswa menilai, Gubernur Riau H Syamsuar selaku Kepala Daerah dan Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Karhutla, telah gagal melaksanakan tugasnya dalam mengatasi Karhutla. Tak sampai disitu mereka kompak menyuarakan turunkan Syamsuar.

"Turun-turun, turunkan Syamsuar. Turunkan Syamsuar sekarang juga," teriak mahasiswa sembari bernyanyi yel-yel sebagai pemberi semagat kepada para mahasiswa yang berunjuk rasa saat itu.

Mahasiswa menilai orang nomor satu di Riau itu, tidak responsip atas penderitaan masyarakat dalam beberapa bulan terakhir dibiarkan menghirup asap.

Krisis udara segar yang seharusnya menjadi perhatian, Syamsuar justru memilih ke Thailand menghadiri acara pertemuan kerja sama Indonesia- Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) yang merupakan Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) .

"Seharusnya, Syamsuar lebih mementingkan masyarakatnya yang sedang sakit karena menghirup asap. Mana keperdulian mu Syamsuar, yang justru ke Thailand," teriak mahasiswa.

Dalam aksi tersebut, para mahasiswa juga membentangkan poster bernada sindiran. Seperti Hutan Riau bukan terbakar, tetapi dibakar. Kemudian ada juga Riau wisata asap serta Riau krisis asap. Selain itu ada juga jangan jadikan Riau jadi objek wisata asap.

Tak sampai disitu, ratusan mahasiswa gabungan tersebut juga mendatangi kantor Mapolda Riau, untuk menyampaikan tuntutanya kepada Kapolda Riau, atas mandeknya penegakan hukum kepada para pelaku Karhutla, khususnya lahan yang terbakar milik koorporasi atau perusahaan yang belum tuntas dilakukan.

"Hingga kini, kami belum ada melihat perkembangan yang signifikan atas pengusutan keterlibatan sejumlah perusahaan yang lahannya sudah terbakar. Maka kami meminta Kapolda Riau turun saja dari jabatannya, sesuai pernyataan presiden Jokowi yang telah mengingatkan jajarannya untuk mencopot Kapolda yang kurang serius menangangani Karhutla," ujar orator aksi saat menyampaikan pernyataan di depan gerbang pintu masuk Mapolda Riau.

Dalam pernyataan sikapnya, mereka meminta agar Kapolda Riau yang saat ini dijabat oleh Irjen Pol Widodo Eko Prihastopo segera menangkap dan mengusut pihak koorporasi atau perusahaan yang membakar lahannya di Riau.

Kemudian mahasiswa juga mendesak Kapolda Riau, untuk mengusut tuntas para pelaku koorporasi pembakar hutan di Riau dan meminta Kapolda Riau untuk membentuk tim gabungan pencari fakta terjadinya Karhutla di Riau.

"Apabila tiga tuntutan ini tidak ditindaklanjuti, maka kami dari mahasiswa Unri akan menuntut Kapolda Riau, segera turun dari jabatannya," teriak sang orator saat itu.***


Reporter  : Richarde
Editor       : Cardova

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.