Home / Ekbis / Galangan Kapal Desa Bakong Dabo Singkep Subur, Tapi Ilegal

Galangan Kapal Desa Bakong Dabo Singkep Subur, Tapi Ilegal

Galangan Kapal Desa Bakong Dabo Singkep Subur, Tapi Ilegal
Ist
ILustrasi Industri Galangan Kapal Ilegal di Desa Bakong Dabo Singkep Kabupaten Daik Lingga Provinsi Kepulauan Riau.

Batam, Oketimes.com - Industri galangan kapal kayu di beberapa daerah di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terus menggeliat. Industri tersebut membawa angin segar, karena kapal kayu menjadi kebutuhan nelayan untuk mencari ikan.

Sebuah daerah di Kabupaten Daik Lingga, Kepri tepatnya sebuah kampung disebut Desa Bakong tepian pantai kecamatan Dabo Singkep Daik Lingga, puluhan orang sedang sibuk membuat kapal kayu. Suara gergaji dan pukulan palu terdengar nyaring. Ditengah sengatan matahari, mereka tetap tekun bekerja menyelesaikan kapal kayunya.

Kapal-kapal kayu berukuran besar yang baru setengah jadi, sudah terlihat megah. Ditambah dengan pilar-pilar kayu berukuran besar membentang dari depan hingga belakang. “Pilar-pilar ini nantinya untuk menempatkan mesin kapal dan penyangga utama sehingga harus kuat dan tidak mudah rapuh,” kata pekerja dan tukang kayu di galangan itu.

Panjang dan lebar serta ketinggian kapal kayu yang dibuat cukup bervariasi, sesuai dengan jenis, tonase, dan bentuk yang dikehendaki. Seperti kapal mini poursein 25 gross tonnage (GT) memiliki panjang 22 meter, lebar 5,6 meter, dan tinggi 2,2 meter. Bahkan ada kapal berukuran lebih besar lagi hingga dua-tiga kali lipat, disesuaikan dengan kapasitas mesin yang mencapai 60-120 GT.

Pesanan kapal dari luar wilayah Provinsi Kepri juga cukup banyak, sayangnya industri kapal di Bakong ini tidak bisa memproduksi kapal dengan cepat sebab hampir sebagian besar kapal dikerjakan secara manual oleh tangan-tangan terampil, diakui salah satu pemilik galangan kapal Saleh.

Belakangan para pengusaha galangan kapal di Desa Bakong kesulitan bahan baku kayu. Kayu Resak yang biasa dijadikan bahan bakunya mulai terbatas.
Selain kuat dan tahan air, harganya pun selangit. Kayu jenis Resak sebagai bahan baku menjadi langka, akibatnya ilegalloging (Illog) pun terjadi. Kayu Resak diburu oleh para pelaku illog diperoleh dari hutan lindung di Pulau Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Pengusaha galangan kapal seperti Acai, Alai, Ato, Toni, Smin, Alai dan Ationg yang kesemuanya beroperasi di Dusun II Desa Kuala Raya dan Desa Bakong, Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga merasa kesulitan bahan baku Kayu Resak, mereka mengandalkan pembelian bahan baku kayu yang tak tau asal muasal kayu diperoleh.

"Berdasakan informasi yang saya dapat dari warga di Desa Bakong sampai kini pengusaha galangan kapal itu belum ditertibkan, bang," kata Zuhardi dari Lembaga Swadaya Masyarakat (lsm) Gema Lingga dalam bincang-bincangya dikontak melalui ponselnya, Kamis (7/3/2019).

Untuk bahan kapal ini pengusaha galangan menggunakan kayu jenis Resak, “tapi jika dibiarkan kegiatan ini terus berlangsung, hutan terus terusik,” sebutnya menambahkan, lemahnya pengawasan oleh instansi terkait mengakibatkan hutan negara bisa hancur.

Di Desa Bakong sejak lama sebagai tempat operasi usaha galangan kapal. Salah seorang pengusaha galangan kapal yang minta tidak disebutkan namanya mengaku, kesulitan untuk memenuhi bahan kayu untuk pembuatan kapal.

"Kami harus pandai-pandai untuk mendapatkan bahan kayu, bermitera dengan Azam salah seorang pengusaha kayu. Dari Azam diperoleh bahan kayu yang selanjutnya bisa memenuhi permintaan konsumen untuk membuat kapal seukuran 30 GT," ungkapnya.

Para pengusaha galangan kapal di Desa Bakong disebut-sebut dikoordinir oleh seseorang yang bernama Berlin, yang konon sebagai putera asli Desa Bakong dan dia mengatur semua hal atas keamanan kegiatan galangan kapal termasuk soal kedekatannya dengan aparat hukum.

Berlin sendiri dikontak ponselnya, membantah soal keterlibatannya terhadap para pengusaha galangan kapal di Desa Bakong. "Coba hubungi mereka sajalah, saya tak dapat komentari soal itu,” sebutnya singkat sambil menutup ponselnya Kamis (7/3/19) lalu.

Akibat aktivitas galangan kapal ini, kayu jenis Resak yang tumbuh di kawasan hutan lindung di Lingga terusik karena pengusaha galangan kapal memenuhi pesanan kapal dari beberapa daerah baik dalam dan luar wilayah provinsi Kepri yang menjadikan pohon kayu Resak menjadi korban. Namun Abu Hasyim Sekdakab Lingga dihubungi ponselnya kepada wartawan mengatakan, "Nanti akan saya cek dan maaf saya lagi sibuk,” sebutnya.***

 

Penulis   : Cardoffa    / Editor  : Van Hallen 

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.