Uluran Tangan Dibutuhkan untuk Dy Aheng Balita Suku Akit Penderita Hydrocephalus

Akademisi, Jon Hendri SH, MH bersama ibu dan balita penderita Hydrocephalus.

Bengkalis, oketimes.com - Dy Aheng, balita berusia 7 bulan penderita hydrocephalus membutuhkan pertolongan. Penyakit ini membuat kepala balita malang ini mengalami pembesaran, akibat menumpuknya cairan di dalam kepalanya. Kondisinya sangat memprihatinkan, tubuh mungilnya tidak dapat menopang kepalanya yang kian hari kian membesar.

Parahnya lagi, dengan keterbatasan ekonomi, anak sulung dari pasangan Dy Kristian dan Dy Pristila hanya dirawat seadanya di rumah orang tuanya di jalan Suku Asli RT.02/RW 02, tepatnya di desa Jangkang Kecamatan Bantan kabupaten Bengkalis.

Dijelaskan Dy Pristila, ibu dari bayi penderita hidrosefalus kepada awak media, anaknya sempat menginap beberapa hari di RSUD Bengkalis. Akan tetapi, setelah beberapa hari menunggu perlengkapan alat untuk dilakukan operasi. Pihak rumah sakit meminta kepada orang tua, untuk menyiapkan administrasi seperti BPJS.

Namun keluarga korban tidak mampu dari suku Akit ini, tidak mengerti tentang BPJS dan memutuskan untuk pulang ke desa Jangkang kecamatan Bantan, Riau.

Pihak keluarga berharap, ada yang sudi memberikan bantuan yang menimpa dirinya, karena semakin hari kepala si bayi semakin membesar. Dy Pristila merasa tidak mampu untuk mengobati penyakit yang diderita oleh putri semata wayangnya itu.

"Aku pun bingung harus berbuat apo, sedangkan dy aheng butuh biaya untuk berobat," ujar dy Pristila saat berbincang dengan awak media di kediamannya, Selasa (25/07/2017).

Lebih jauh wanita asal desa Jangkang kecamatan Bantan ini berharap ada bantuan dari pemerintah setempat untuk pengobatan Dy Aheng.

"Saya cuma bisa berharap ado bantuan dari pemerintah untuk pengobatan Dy Aheng. Aku ingin nian liat Dy Aheng hidup sehat dan normal seperti anak-anak pada umumnya. Kasihan jingok Dy Aheng cuma bisa terbaring lemah dan sering merengek, mungkin menahan sakit di kepalanyo," tandasnya dengan nada lirih.

Terkait ini, selaku akademisi, Jon Hendri SH.MH menilai pemkab Bengkalis terutama Camat Bantan semestinya memberikan perhatian pada warganya yang kurang mampu, "Terlebih menyangkut nyawa seorang anak yang membutuhkan perawatan intensif, jika hal ini dibiarkan maka nyawa sang anak sangat sulit ditolong, karena sebelumnya orang tua dari sang anak sempat berobat dirumah sakit umum daerah," ujarnya.

Jon Hendri sangat menyayangkan sikap pihak rumah sakit yang tidak memandang ini sebagai hal yang serius. "Seharusnya pihak rumah sakit jika ada warga yang tidak mengerti, membantu menunjuk jalannya. Di dalam UU juga disebutkan bahwa fakir miskin anak telantar dipelihara oleh negara," tukas Jon Hendri.

Jon mengimbau pihak-pihak terkait seperti Camat Bantan, Dinas Sosial, turun tangan memberikan pertolongan cepat agar sang anak bisa hidup normal seperti anak lainnya, pungkas Jon. (der/ptr)


Tags :berita
Komentar Via Facebook :

Berita Terkait