Walikota Apresiasi Program Literasi SMAN 4
Nurhafni saat berkunjung ke kediaman Walikota Pekanbaru Dr H Firdaus ST MT, Selasa (23/2/16).
Pekanbaru, Oketimes.com - Guna mendukung program gerakan membaca dan menulis (literasi), SMAN 4 Pekanbaru dalam waktu dekat akan menerbitkan buku hasil karya siswa berjudul, Cahaya Pena. Membaca dan menulis (literasi) merupakan salah satu aktifitas penting dalam hidup.
Kepala SMAN 4 Pekanbaru Hj Nurhafni MPd megatakan, sebagian besar proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. "Budaya literasi yang tertanam dalam diri peserta didik mempengaruhi tingkat keberhasilan, baik di sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat," ujar Nurhafni saat berkunjung ke kediaman Walikota Pekanbaru Dr H Firdaus ST MT, Selasa (23/2/16).
Dalam kunjungan tersebut, turut pula hadir Waka Kesiswaan Drs Mansur Ali, Waka Kurikulum Zulkarnaini MPd, guru Busra Efendi SPd dan beberapa siswa. Selain itu juga hadir Camat Marpoyan Damai Fiora Helmi dan Lurah Maharatu Krisna Minang.
"Syukurlah Pak Wali Kota Pekanbaru Dr H Firdaus ST MT mengapresiasi dan menyambut positif kegiatan ini. Dalam kesempatan itu, Pak Wako juga memberikan hadiah terindah berupa dua buku dengan judul Membangun Kota Metropolitan Madani dan Merengkuh Mimpi," ujar Nurhafni.
Nurhafni menyebutkan, buku adalah jendela dunia. Berbagai pengetahuan dapat diketahui dan dipelajari. Buku juga sebuah nutrisi bagi jiwa, ibarat sebuah makanan yang selalu menyuplai energi bagi raga. Begitu pentingnya peran buku dalam kehidupan manusia. Namun ironisnya pada era global ini banyak siswa yang masih enggan membaca buku.
"Undang undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No 20 tahun 2003 pasal 4 ayat 5 menjelaskan bahwa pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. Budaya membaca dan menulis memang harus ditanamkan sedini mungkin, tidak terkecuali oleh guru," katanya.
Seorang guru, lanjut Nurhafni, harus bisa memberi motivasi kepada siswa untuk gemar membaca dan menulis. Pastinya bukan sekedar seruan belaka dan tanpa contoh nyata. Membaca menjadi pekerjaan yang sangat berat bagi siswa, dan buku pun dipandang sebelah mata, karena kalah menarik dibanding game online dan permainan modern lainnya," tambah Nurhafni.
Nurhafni menambahkan, tidak mengherankan jika menurut hasil kajian Program For International Student Assessment (PISA) Pada tahun 2012, tingkat membaca pelajar Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 anggota PISA dengan skor 396 dari standar 496. (ade)

Komentar Via Facebook :