Penangkapan 3 Karyawan PT SISK Diduga Malprosedur, Ada Kejanggalan⁸
PENANGANAN kasus dugaan pencurian Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di PT. SISK Parenggean, menuai sorotan tajam. Tiga pria berinisial R, AL, dan AS kini mendekam di sel tahanan Polsek Parenggean, namun proses penangkapannya dinilai malprosedur.
Surat penangkapan disebut menyusul.
Kuasa hukum ketiga tersangka, Nunung, SH, mengungkapkan temuan mengejutkan terkait penangkapan kliennya. Berdasarkan keterangan para tersangka, mereka diciduk petugas pada 6 April 2026 tanpa disertai surat perintah penangkapan.
”Klien kami mengaku ditangkap tanggal 6 April tanpa surat perintah.
Ironisnya, surat perintah penangkapan baru dibuat dan ditandatangani oleh Kasat Reskrim Polres Kotim pada 7 April 2026, disusul BAP pada 8 April.
Jika benar demikian, ini adalah pelanggaran prosedur serius. Surat perintah seharusnya ada sebelum tindakan, bukan menyusul,” papar Nunung saat mendampingi awak media di Mapolsek Parenggean.
Kejanggalan lain yang disoroti adalah dilepaskannya saudara P, yang merupakan pemilik sekaligus sopir mobil pikap pengangkut TBS tersebut.
Meski kendaraan tersebut kini terparkir sebagai barang bukti di halaman Polsek Parenggean, keberadaan P masih menjadi tanda tanya besar.
Nunung menilai alasan “pengembangan kasus” untuk melepas P sangat tidak masuk akal.
“Ini mencederai rasa keadilan. Pengembangan kasus cukup dilakukan dengan interogasi tanpa harus melepas pelaku utama atau penadah untuk bebas berkeliaran. Ada apa dengan penegakan hukum kita,” ujarnya.
Muncul dugaan bahwa kasus ini merupakan imbas dari sengketa lama antara koperasi dengan pihak tertentu (SB dan P). Selain itu, ketiga tersangka diketahui merupakan karyawan lama yang telah mengabdi di PT SISK.
Nunung mengingatkan bahwa para tersangka adalah tulang punggung keluarga yang memiliki tanggung jawab besar, termasuk ada yang memiliki bayi yang masih sangat membutuhkan perhatian ayah.
”Mereka adalah pekerja. Seharusnya ada pemisahan yang jelas antara ranah ketenagakerjaan dengan hukum positif. Kami meminta pertimbangan kemanusiaan,” tambahnya.
Saat ini, pihak kuasa hukum tengah menunggu jadwal mediasi dengan manajemen perusahaan.
Harapannya, PT SISK dapat mempertimbangkan prinsip “Bina Desa” dan kerukunan masyarakat sekitar untuk menemukan solusi yang lebih persuasif.
”Kami berharap ada kebijakan dari perusahaan yang meski mengikat, tetap memiliki sentuhan solusi positif demi keamanan dan kenyamanan bersama di masa depan.
Namun terkait dugaan malprosedur, kami tetap akan melaporkan hal ini ke tingkat atas,” tutup Nunung.

Komentar Via Facebook :