Hakim Sempat Tegur Anita Keluar Sidang

Sidang Lapangan Perkara Lahan Lokasi Waduk Tenayan Raya Berlangsung Panas

Ketua Majelis Hakim Debora DR Parapat, sempat menegur akan mengusir tergugat intervensi Anita dari arena sidang lapangan. Amarah hakim yang terkenal vocal itu terjadi, lantaran Bintang Sianipar selaku kuasa penggugat menjelaskan kerpada majelis terkait posisi lahan dalam sidang lapangan gugatan Sakdiah melalui pengacara Bintang Sianipar SH terhadap penerbitan SKGR yang diduga tanpa SOP (Standar Operasional Prosedure) dalam penerbitan surat tanah atas nama Anita di lokasi Waduk Kawasan Perkantoran Walikota Pekanbaru, tepatnya di RT 04/ RW 03 Kelurahan Tuah Negeri Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru, berlangsung panas, pada Jumat (20/1/2023) kemarin.

Pekanbaru, Oketimes.com - Sidang lapangan gugatan Sakdiah melalui pengacara Bintang Sianipar SH terhadap penerbitan SKGR yang diduga tanpa SOP (Standar Operasional Prosedure) dalam penerbitan surat tanah atas nama Anita di lokasi Waduk Kawasan Perkantoran Walikota Pekanbaru, tepatnya di RT 04/ RW 03 Kelurahan Tuah Negeri Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru, berlangsung panas, pada Jumat (20/1/2023) kemarin.

Sidang lapangan tersebut bertempat di depan tangga Masjid Agung Paripurna Al Firdaus Bandar Raya Tenayan, dan dipimpin Ketua Majelis Debora DR Parapat SH, MKn, serta dihadiri terdugat I (pihak Kelurahan Tuah Negeri), tergugat II (pihak Kecamatan Tenayan Raya) dan tergugat Interfensi (Anita dan kausa hukumnya) beserta para saksi sempadan dan ahli waris Sakdiah yang dihadirkan penggugat.

Lokasi sidang tersebut, terpaksa digelar di tangga Masjid Masjid Agung Paripurna Al Firdaus, karena lokasi (obyek) perkara saat sidang lapangan dalam keadaan banjir, sehingga majelis hakim dan panitera serta tergugat I, II dan tergugat Intervensi dan seluruh rombongan penggugat serta saksi sempadan, tidak dapat sampai ke lokasi perkara.

Dalam persidangan itu, Ketua Majelis Hakim Debora DR Parapat, sempat mengancam akan mengusir tergugat intervensi, yakni atasnama Anita dari arena sidang. Amarah hakim yang terkenal vocal itu terjadi, lantaran Bintang Sianipar selaku kuasa penggugat menjelaskan kerpada majelis terkait posisi lahan.

Dalam penjelasan penggugat diketahui, bahwa tanah Sakdiah bersepadan dengan Ahmad Syah Harrofie dan Nimis Yulita yang saat itu turut berada di lapangan.

Ketika Bintang Sianipar menjelaskan posisi lahan yang digugat, Anita yang saat itu berada disamping Ketua Majelis Debora DR Parapat, rebut-ribut berceloteh tanpa jelas apa yang disebutkan, membuat persidangan terusik.

Lantaran sikap tegas, Ketua Majelis Debora DR Parapat langsung menunjuk Anita. "Jika saudari masih ribut-ribut dan bicara tanpa diminta majelis, saudari akan saya perintahkan untuk keluar dari arena persidangan ini," tegas Debora, sehingga nyali Anita ciut, langsung tertunduk dan diam.

Saat itu juga, di hadapan peserta sidang lapangan, Ketua Majelis Debora DR Parapat memerintahkan kepada tergugat I, yakni Aparat Kelurahan Tuah Negeri, agar menghadirkan Lurah Tuah Negeri yang menanda tangani surat SKGR atas nama Anita dalam persidangan minggu depan.

Begitu juga pihak tergugat II dari kecamatan Tenayan Raya, Majelis Hakim juga memerintahkan, agar menghadirkan Camat Tenayan Raya yang menanda tangani SKGR atas nama Anita pada persidangan di PTUN Pekanbaru, Rabu, (25/01/2023) pekan depan.

Pada kesempatan itu, Bintang Sianipar juga memohon pada pihak Kelurahan Tuah Negeri dan pihak Kecamatan Tenayan Raya, agar mencari waktu yang tepat, untuk sama-sama turun kelapangan, melihat obyek perkara dimana lokasi  tanah SKGR atas nama Anita yang diterbitkan.

Alasan Bintang Sianipar, berkaitan dengan statemen Jepi Murdai selaku Ketua RT 04 /RW 003 Kelurahan Tuah Negeri di hadapan majelis saat sidang lapangan. Lantas Ketua Majelis Debora DR Parapat, menjawab pertanyaan Jepi Murdani, dengan mengatakan bahwa pengurusan surat-surat tanah atas nama Anita di atas tanah Sakdiah, tidak sesuai dengan SOP alias turun dari atas.

Kepada majelis hakim, Jepi Murdani menegaskan, sejak awal pihaknya tidak bersedia menanda tangani surat tanah dalam bentuk SKGR yang disodorkan Anita. Hal itu disebabkan, karena pihaknya mengetahui bahwa lahan yang diajukan itu adalah diatas tanah milik keluarga Sakdiah. Apalagi proses pengurusannya tidak melalui prosedural, tidak turun lapangan melakukan pengukuran dan hanya menggunakan gambar yang tidak diketahui asal-usulnya.

Namun selang sekitar 2 minggu, dirinya terus mengelak tidak bersedia menandatangani suratnya. Tidak kenal pagi, siang hingga malam, Anita beserta kroni-kroninya terus datang mengejarnya kerumah Jepi dan menyodorkan surat agar ditanda tangani.

“Karena terus didesak dimana keluarga saya sudah merasa ter-intimidasi, akhirnya, walaupun surat dan tanah itu saya ketahui lahan milik keluarga Sakdiah, dengan keadaan terpaksa saya tanda tangani," ungkap Jepi Murdani.

Meksi begitu lanjut Jepi Murdani, surat yang ia sempat tanda tangani setelah Anita membuat serta menanda tangani surat pernyataan di atas kertas meterai 2 kali enam ribu.

Jepi juga mengungkapkan, adapun isi surat yang dibuat Anita warga Jalan Merpati No 2 Tangkerang itu, menyatakan bahwa setelah surat tanahnya di tanda tangani Camat, namun jika suatu saat ada pihak yang melakukan klaim, Anita tidak akan melibatkan Ketua RT dan Ketua RW setempat.

"Pembuatan surat pernyataan Anita itu, juga disaksikan serta ditanda tangani Yudianto suaminya," pungkas Jepi Murdani dengan meyakinkan.***


Komentar Via Facebook :

Berita Terkait