Kemenag Pelalawan Segera Cari Solusi

Pergantian Pendeta Gereja GKSI Sion Estate IV Pangkalan Lesung Berseteru, Ini Penjelasan Musim Mas dan Kemenag Pelalawan

ILustrasi, Gereja Kristen Setia Indonesia

Pekanbaru, Oketimes.com - Gejolak penolakan pimpinan ibadah jemaat antara Pdt Yuliasa Waruwu (lama) dengan Pdt Niruan Harefa (baru) Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Sion di Estate IV Kebun PT Musim Mas, Kecamatan Pangkalan Lesung Kabupaten Pelalawan, Riau, masih berlangsung hingga kini.

Pasalnya, semenjak pucuk pimpinan jemaat gereja tersebut melakukan pergantian antara Pdt Yuliasa Waruwu (lama) dengan Pdt Niruan Harefa (baru) pada pertengahan April 2020 lalu, hingga kini masih menyimpan gejolak pelik diantara para pimpinan dan jemaat gereja itu sendiri.

Informasi yang dirangkum oketimes.com dalam sepekan terakhir ini, gejolak penolakan Pdt Niruan Harefa S.Th (baru) untuk menggantikan Pdt Yuliasa Waruwu (lama), diduga tidak terlepas adanya dugaan campur tangan para jemaat, karyawan dan manajemen PT Musim Mas.

Dimana pihak-pihak tersebut, dinilai kurang legowo dalam menerima keputusan Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) pusat untuk menempatkan Pdt Niruan Harefa S.Th (baru) dan menggantikan posisi Pdt Yuliasa Waruwu (lama) sebagai pimpinan jemaat di Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Sion berlokasi Estate IV Kebun PT Musim Mas, Kecamatan Pangkalan Lesung Kabupaten Pelalawan, Riau.

"Iya pak, saya tidak habis pikir dengan sikap para oknum-oknum yang tidak bisa menerima kehadiran saya untuk memimpin ibadah di Gereja GKSI Sion di Estate IV Kebun PT Musim Mas, Kecamatan Pangkalan Lesung Kabupaten Pelalawan. Padahal penempatan saya jelas dan sesuai SK Badan Pengurus Sinode GKSI Pusat," kata Pdt Niruan Harefa S.Th kepada oketimes.com saat dihubungi lewat ponselnya pada Jumat malam (25/9/2020) di Pekanbaru.

Disebutkan Pdt Niruan Harefa S.Th, penempatan dirinya sebagai pimpinan jemaat di Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Sion berlokasi Estate IV Kebun PT Musim Mas, Kecamatan Pangkalan Lesung Kabupaten Pelalawan, sudah sah secara kelembagaan dan ADRT yang berlaku dalam pengurusan Badan Pengurus Sinode GKSI Pusat.

"Padahal surat penempatan pimpinan jemaat dan pemberitahuan tersebut, sudah dikirimkan pengurus GKSI pusat kepada pimpinan jemaat lama dan manajemen PT Musim Mas yang berkedudukan di Kecamatan Pangkalan Lesung Kabupaten Pelalawan, Riau," ujarnya.

Anehnya lanjut Pdt Niruan Harefa S.Th, saat dirinya hendak melakukan upaya konfirmasi terkait penempatan dirinya sebagai pimpinan jemaat di GKSI Sion di Estate IV Kebun PT Musim Mas, untuk menemui pihak manajemen Musim Mas pada Sabtu 20 Juni 2020 lalu, guna mengkonfirmasikan penempatannya sebagai pimpinan jemaat di gereja tersebut.

"Pihak manajemen Musim Mas seperti oknum Askep kebun, Komandan Security dan pihak Humas Musim Mas selalu menjadi penghalang setiap kali saya ingin mengkonfirmasikan surat penempatan tugas saya kepada pihak manajemen dan pimpinan jemaat lama. Ini yang tidak habis pikir bagi saya dan Badan Pengurus Sonode GKSI pusat atas ketidak legowonya mereka selama ini," ungkapnya.

Terkait peristiwa itu lanjut Pdt Niruan Harefa S.Th, Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Pusat, sudah mengirimkan surat pemberitahuan kepada pimpinan tertinggi Musim Mas Pusat di Medan, melalui Direktur Utama PT Musim Mas Anwar Karim pada tanggal 3 September 2020 lalu.

Dalam surat tersebut, Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Pusat, menyampaikan dan memberikan penjelasan kepada Musim Mas agar berkenaan dengan penempatan tenaga rohaniawan Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia yang berkedudukan di Jalan Kerja Bakti No. 15 RT 001 RW 002 Kel. Makasar Kec. Makasar Kota Jakarta Timur, menugaskan Pdt. Niruan Harefa, S.Th, menjadi Gembala/Pendeta di Gereja Kristen Setia Indonesia di PT Musim Mas Estate 4 Kab, Pelalawan, untuk menggantikan Pdt Yuliasa Waruwu, S.Pd.K, sesuai Surat Keputusan Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia Nomor 007 Tahun 2020 tertangal 14 April 2020.

Selain itu, Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Pusat memberikan lima point catatan penting kepada Dirut Musim Mas Anwar Karim diantaranya sebagai beriukut:

1. Berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia berada di bawah kepemimpinan Pdt. Marjiyo, M.Th, selaku Ketua Umum.

2. Hal ini sesuai dengan mekanisme organisasi menggantikan Pdt Matheus Mangentang yang telah memimpin Sinode GKSI sejak 1988 – 2014 (kl. 26 tahun lebih dari 5 kali periode) melalui Sidang Sinode Ke-4 tahun 2015.

3. Pasca diberhentikan sebagai Ketua Sinode Pdt Matheus Mangentang masih mempertahankan jabatannya dengan membentuk Sinode GKSI tandingan.

4. Pdt Yuliasa sedari awal dan selama ini berada bersama-sama dengan Sinode GKSI di bawah pimpinan Pdt. Marjiyo, M.Th, namun karena yang bersangkutan melakukan Tindakan pelangaran Anggaran dan Anggaran Rumah Tangga bahkan menantang untuk di pecat, maka dengan demikian yang bersangkutan telah diberhentikan oleh sinode GKSI – sebagaimana terlampir.

5. Sinode GKSI berdasar Surat Keputusan Nomor 009 Tahun 2020 telah mengangkat Sdr. Pdt. Niruan Harefa, S.Pd.K sebagai Pengganti Sdr. Yuliasa Waruwu. (telampir).

Selanjutnya, Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Pusat juga melaporkan, bahwa sejak dilakukan pergantian pendeta di Jemaat GKSI Estate 4 PT Musim Mas, Pdt Yuliasa masih diberikan kelonggaran oleh Komandan Security dan Bagian HUMAS PT Musim Mas Estate 4, untuk keluar masuk ke dalam gereja sehingga menimbulkan suasana yang tidak nyaman di jemaat.

Sementara penggantinya Pdt. Niruan Harefa, S.Th tidak diijinkan masuk dengan alasan Pandemi Covid-19, karena pendeta pengganti dianggap berdomilisi di Pekanbaru.

Padahal Pendeta pengganti tersebut saat ini sudah menetap di Pelalawan selama ini. Surat tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Pdt. Marjiyo, M.Th.

Menanggapi hal itu, Manajer Humas PT Musim Mas Ibrahim saat dikontak ponselnya pada Jumat (25/9) sore, sedang dalam tidak keadaan katif dan pesan WhatsApp yang dikirimkan tidak berbalas.

Sepertinya Ibrahim lebih suka 'membisu' ketimbang memberikan penejelasan terkait adanya keberpihakan oknum humas atau karyawan PT Musim Mas yang tidak legowo dalam pergantian pimpinan jemaat di Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Sion berlokasi Estate IV Kebun PT Musim Mas, Kecamatan Pangkalan Lesung Kabupaten Pelalawan, Riau.

Tak lama kemudian, melalui staf Humas Musim Mas Wendi Bahri, menyampaikan penjelasannya kepada oketimes.com lewat pesan WhattsApp, mengatakan dalam hal kegiatan keagamaan, pada dasarnya PT Musim Mas sangat menghormati dan menjunjung tinggi kepetusan tersebut dan PT Musim Mas sama sekali tidak ada keberpihakan atau bahkan mencampuri urusan ibadat umat beragama.

Wendi juga menyebutkan bahwa bukti dukungan PT Musim Mas kepada pekerja atau karyawannya adalah dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya dan keleluasaan kepada masing-masing umat beragama di Lingkungan perusahaan dalam menjalankan kegiatan ibadah yang diyakininya masing-masing karyawan, sepanjang mengikuti prosedur dan aturan yang berlaku dan menerapkan protokoler kesehatan dimasa pandemi Covid-19.

"Terkait permasalahan yang terjadi ditubuh GKSI Sion itu, sifatnya adalah internal sekte mereka dan PT Musim Mas tidak ada melakukan intervensi atau bahkan sampai mencampuri urusan internal GKSI tersebut," sebut Wendi.

Ditanya soal adanya aksi penghadangan yang dilakukan oknum Askep dan Komandan Security terhadap Pdt. Niruan Harefa, S.Th saat melakukan konfirmasi dan konsilidasi terkait penempatan tugas nya sebagai pimpinan jemaat Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Sion di Estate IV Kebun PT Musim Mas, Kecamatan Pangkalan Lesung Kabupaten Pelalawan, selama ini pasca penempatan Pdt tersebut?.

Wendi Bahri kembali membantah tudingan tersebut, dengan mengatakan Pdt. Niruan Harefa, S.Th, belum mendapatkan rekomendasi dari Binmas Kristen Kemenag Kabupaten Pelalawan untuk menjalankan tugasnya di Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Sion di Estate IV Kebun PT Musim Mas, Kecamatan Pangkalan Lesung Kabupaten Pelalawan, sebagai pimpinan jemaat.

"Kalau perusahaan (musim mas_red) tetap legowo dan tidak ada keberpihakan manajeman kepada pengurus gereja tersebut. Kami wellcome aja, sepanjang memenuhi aturan dan ketentuan perusahaan," pungkas Wendi meyakinkan.

Terpisah, Kaur Binmas Kristen Kemenag Pelalawan Liston Alfian Naibaho, mengatakan dalam pergantian pimpinan jemaat Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Sion di Estate IV Kebun PT Musim Mas, Kecamatan Pangkalan Lesung Kabupaten Pelalawan, yang terjadi saat ini merupakan imbas dari terjadinya sengketa pergantian kepengurusan Ketua Sinode Pdt Matheus Mangentang yang masih mempertahankan jabatannya yang diduga membentuk Sinode GKSI tandingan.

"Imbasnya kan di daerah, otomatis akan berdampak pula dengan keputusan tersebut, sehingga kami dalam hal ini Kemenag Kabupaten Pelalawan, Riau, tidak bisa serta merta menerima keputusan tersebut, sebelum kedua kubu bersatu kembali dalam menjalankan vis-misi dalam kelembagaan jemaat gereja tersebut, yang sah dengan ketentuan dan aturan yang berlaku di Indonesia," ujar Liston.

Disebutkan Liston Naibaho, pihaknya dalam menjamin peribadatan di Gereja GKSI Sion tidak ada intervensi dari pihak manapun, sepanjang kedua kubu pengurus pusat bersatu kembali dan tidak memecah jemaat untuk melakukan ibadah dalam naungan kelembagaan keberibadatan tersebut masih memenuhi ketentuan dan aturan yang berlaku.

"Jika kedua kubu sudah bersatu kembali, berkemungkinan para jemaat akan menerima apapan bentuk keputusan yang dilakukan pengurus pusat di daerah. Tapi jika sudah seperti ini kondisinya, kami harus menjadi penengah dalam dua kubu tersebut, sehingga pelaksaan ibadah bisa tetap berjalan sebagaimana mestinya," terang Liston.

Liston juga mengatakan dengan adanya pergantian pimpinan jemaat di Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Sion di Estate IV Kebun PT Musim Mas, Pangkalan Lesung.

Kedua Pendeta tersebut sambung Liston, yakni Pdt Niruan Harefa S.Th (baru) dan Pdt Yuliasa Waruwu (lama), untuk saat ini belum bisa melakukan memimpin ibadah, guna menghindari gejolak yang terjadi dinternal pimpinan dan jemaat gereja GKSI.

"Karena, jika salah satu dari mereka memimpin ibadah di gereja itu, nanti bisa menimbulkan konflik sosial bagi pengganti yang baru dan jemaat lainnya. Sehingga untuk sementara ini, kami mengambil jalan tengah, agar keduanya tidak bisa melakukan memimpin peribadatan di gereja tersebut, tapi kalau di luar areal tersebut tidak jadi masalah," terang Liston Naibaho.

Lantaran itu lanjut Liston, agar tetap peribadatan berjalan sebagaimana mestinya, pihaknya dalam waktu dekat ini, akan mengundang kedua Pendeta yakni Pdt Niruan Harefa S.Th (baru) dan Pdt Yuliasa Waruwu (lama) bersama jemaat dan pihak Manajemen PT Musim Mas, agar melakukan rapat koordinasi untuk mencari solusi atau jalan alternatif, sehingga aktivitas ibadah tetap berjalan tanpa merugikan kedua belah pihak dan para jemaat tetap bisa melaksanakan ibadah tanpa ada intervensi dari kedua kubu pimpinan pusat jemaat yang saat ini masih berseteru.

"Hal inilah yang kami akan cari jalan alternatifnya kepada kedua belah pihak pimpinan jemaat gereja GKSI Sion ini. Agar jemaat gereja bisa beribadah sebagaimana mestinya seperti semula, tanpa ada intervensi dari kedua pimpinan jemaat yang saat ini masih  bersiteru," pungkas Liston Naibaho meyakinkan.***


Penulis  : Ari Speedr Hutasoit
     

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait