Home / Pendidikan / Proyek RKB SMPN 44 Pekanbaru Mangkrak, Salah Siapa?

Proyek RKB SMPN 44 Pekanbaru Mangkrak, Salah Siapa?

Proyek RKB SMPN 44 Pekanbaru Mangkrak, Salah Siapa?
Disediakan oketimes.com
Tampak kondisi RKB di SMPN 44 Pekanbaru di Jalan Damai Kecamatan Rumbai yang mangkrak, Rabu (15/1/2020).

Pekanbaru, Oketimes.com - Setelah sempat molor dari progres fisik pada pertengahan Desember 2019 lalu, akhirnya hasil pengerjaan proyek pembangunan enam lokal ruang kelas baru (RKB) di SMP Negeri 44 di Jalan Damai Palas Rumbai Pekanbaru, ditemukan mangkrak dan belum rampung 100 persen hingga kini.

Berdasarkan penelusuran team media oketimes.com dan satelitriau.co pada Rabu (15/1/2020) siang, kondisi fisik pengerjaan proyek RKB di SMPN 44 Pekanbaru, yang dilaksanakan CV Anugrah Purnama itu, baru sekitar 80 persen yang kini terhenti dan tidak ada tanda-tanda pengerjaan dilakukan kontraktor pelaksana.

Malahan di lokasi, para tukang yang menempati basecamp atau tempat penampungan sementara para tukang, terlihat lengang dari aktivitasnya. Mereka memilih tidak bekerja, lantaran pemborong proyek ingkar janji tidak membayar upah tukang kepada para pekerja di sana.

"Kami berhenti bekerja selama dua minggu ini, sebab upah tukang kami tidak dibayar pemborong. Ada sekitar 30 orang tukang dan kernet bangunan tidak bekerja, karena kami menuntut gaji kami," kata seorang tukang yang enggan disebutkan identitasnya pada team media ini di lokasi rabu siang.

Tak sampai disitu, akibat pemborong tidak memberikan upah kerja, para tukang bangunan yang menjaga dan menempati bangunan gedung tersebut terancam tidak makan. Lantaran uang untuk membeli bahan makanan seperti beras dan lauk tidak ada diberikan pemborong.

"Kami di sini sudah sengsara pak, karena sudah dua hari ini kami tidak makan nasi, karena tidak ada uang. Kami sudah mengadu kepada pemborong yang menyuruh kami bekerja disini, tapi mereka seakan tak peduli dan memberikan janji-janji palsu kepada kami," keluh tukang ini dengan raut wajah terlihat pucat.

Mendengar keluhan para tukang itu, team awak media ini mencoba mengbungi pihak rekanan CV Anugrah Purnama yang bernama Niko lewat ponselnya. Namun Niko memilih tidak menjawab panggilan awak media ini, meski nada dering ponselnya terdengar aktif.

Sementara Ferry Syukur selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) proyek RKB SMPN 44 Pekanbaru, saat dihubungi lewat ponselnya Rabu (15/1/2020) sore, mengaku proyek tersebut memang terhenti saat ini dilakukan rekanan, akan tetapi tidak bersedia menyebutkan apa alasan rekanan menghentikan proyek tersebut.

"Saya tidak tahu soal itu, karena urusan itu ada di PPK (Pejabat Pembuat Komitmen Bidang Sarpras Disdik Pekanbaru yang saat ini dijabat oleh Ngadimin-red). Tanya saja sama beliau," tukas Ferry mengelak.

Ditanya sudah berapa persen realisasi fisik proyek RKB tersebut hingga kini, Ferry mengaku saat ini kondisi fisiknya sudah sekitar 80 persen. "Sudah 80 persen setahu saya," jawabnya.

Ditanya kembali, mengapa proyek tersebut saat ini terhenti dan seperti apa sanksi yang dikenakan kepada rekanan.

Ferry lagi-lagi terkesan 'buang badan', serta menyebutkan hal tersebut bukan kewenanganya untuk menyampaikan hal tersebut dan menyarakan awak media ini untuk mempertanyakan hal itu kepada Kabid Sarpras Disdik Pekanbaru.

"Kalau masalah itu, tanya saja kepada pak Ngadimin, saya tidak bisa menyampaikan hal itu. Sebab yang meneken kontrakkan beliau," pungkas Ferry Syukur sembari meyudahi percakapan lewat ponselnya.

Seperti diberitakan, pembangunan RKB enam lokal di SMPN 44 Pekanbaru, terkesan molor dari progresnya pada pertengahan Desember 2019 lalu.

Usut punya usut, realisasi fisik molor, akibat kurangnya kesiapan rekanan untuk melaksanakan proyek tersebut lantaran dipicu sejumlah permasalahan diinternal rekanan. ***

 

Assorted   : Team Media

Editor       : Ndanres Area

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.