Home / Nasional / BMKG : Kecepatan Peringatan Dini, Lebih Penting Ketimbang Akurasi Data

Soal Akurasi Data Gempa 7,4 SR Menjadi 6,9 SR di Banten

BMKG : Kecepatan Peringatan Dini, Lebih Penting Ketimbang Akurasi Data

BMKG : Kecepatan Peringatan Dini, Lebih Penting Ketimbang Akurasi Data
(Detik.com)
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat menggelar konferensi pers di kantornya di Jakarta belum lama ini.

Jakarta, oketimes.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG), menegaskan kecepatan informasi tentang bencana gempa bumi menjadi pegangan bagi pihaknya, ketimbang menunggu akurasi kekuatan gempa saat terjadi selama ini.

BMKG dengan cepat memberikan informasi bencana secepat mungkin, masyarakat akan memiliki golden time atau waktu sangat berharga untuk mengevakuasi diri secara mandiri dan menyelamatkan diri.

"Kecepatan inilah yang membuat masyarakat memiliki golden time, secara lebih dini untuk melakukan evakuasi mandiri," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati seperti dilansir dari Antara, Minggu (4/8/2019).

Menurut Dwikorita, pegangan BMKG, sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Dimana berdasarkan Pasal 37 dalam undang-undang itu, sebagaimana diterapkan di negara termaju dalam mitigasi dan peringatan dini tsunami.

Sementara untuk akurasi data gempa, bisa dicapai dengan proses pemutakhiran sesuai perkembangan jumlah sinyal-sinyal kegempaan yang terekam jaringan sensor gempa bumi.

Kecepatan Lebih Utama Ketimbang Akurasi

Hal senada juga disampaikan Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, bahwa kecepatan informasi bencana harus lebih diutamakan dibandingkan akurasi data. Pasalnya, kecepatan dan akurasi merupakan dua hal yang tak selalu terpenuhi dalam waktu yang bersamaan.

Contohnya adalah ketika memberi peringatan dini tsunami. Saat kejadian gempa pada Jumat (2/8/2019) di wilayah Samudera Hindia Selatan, Banten, BMKG melakukan pemutakhiran informasi gempa bumi tektonik berpotensi tsunami yang terjadi.

Pada awal informasi disebutkan bahwa gempa yang terjadi berkekuatan magnitudo 7,4 SR berkedalaman 10 kilometer. Kemudian, informasi itu dimutkahirkan menjadi magnitudo 6,9 berkedalaman 48 kilometer.

Seperti contoh lainnya, saat gempa Tohoku di Jepang yang terjadi pada 2011 lalu. Kala iti Japan Meteorogical Agency (JMA) dalam waktu tiga menit langsung menyampaikan informasi kejadian gempa magnitudo 7,9 dan peringatan dini tsunami dengan ketinggian 6 meter.

Pada menit ketiga, jaringan sensor gempa JMA masih menangkap sebagian kecil sinyal-sinyal gempa yang baru mampu memberi perhitungan magnitudo mencapai 7,9 dan potensi tsunami.

"Namun di menit ke-3 itu, masyarakat terdampak sudah bisa siaga untuk menghadapi ancaman tsunami dengan melakukan evakuasi mandiri," kata Daryono.

Kemudian pada menit ke-50, JMA pun memutakhirkan kembali informasi magnitudo gempa menjadi 8,8 dan berakhir di magnitudo 9,0 dalam pembaruan terakhirnya.

"Jadi akurasi baru dapat dicapai setelah menit ke-50 untuk gempa dengan magnitudo 9,0," kata Daryono. Apabila peringatan dini diinformasikan setelah menit ke-50 karena menunggu akurasi, tsunami pasti sudah melanda lebih dulu di pantai-pantai terdekat," kata dia.

Ia menjelaskan, situasi dan kondisi geologi serta tektonik di Jepang hampir, serupa dengan situasi dan kondisi di wilayah Indonesia. Karena,  beberapa pantai di Indonesia, berada pada posisi dengan sumber-sumber gempa bermagnitudo besar. Perhitungan akurasinya pun baru bisa dicapai pada menit-menit yang akan selalu terlambat dengan kedatangan tsunami.***


Source  : Antara
Editor    : Van Hallen

 

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.