MAN 1 Pekanbaru Bantu Warga Korban Banjir di Kampar
Ghafardi foto bersama usai memberikan bantuan kepada korban banjirFoto bersama usai memberikan bantuan kepada korban banjir.
Pekanbaru, Oketimes.com - Prihatin dengan musibah banjir yang melanda tiga kabupaten di Riau, yakni Kabupaten Kampar, Rokan Hulur (Rohul) dan Kuantan Singingi (Kuansing), MAN 1 Pekanbaru pun menggelar aksi sosial bertajuk `Peduli Banjir Riau`. Ribuan rumah warga yang terendam membuat mereka kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari.
Dari tiga wilayah yang terendam banjir, Kabupaten Kampar menjadi wilayah yang paling parah. Bahkan, tercatat musibah kali ini menjadi yang terparah.
"Syukurlah, aksi Peduli Banjir Riau ini mendapat dukungan dari warga sekolah. Bantuan ini kami salurkan ke beberapa desa di Kabupaten Kampar yang terendam banjir," ujar Wakil Kepala (Waka) bidang keagamaan MAN 1 Pekanbaru, Ghafardi MPdI kepada wartawan, Kamis (18/2).
Diakui Ghafardi, bantuan sosial ini merupakan bentuk kepeduliaan MAN 1 kepada korban bencana banjir. Apalagi di saat musibah seperti ini, tentu semua instansi harus bersinergi membantu keluarga yang sedang mengalami kesusahan.
"Bantuan yang disalurkan merupakan hasil sumbangan para siswa dan guru. Adapun bantuan yang disalurkan adalah beras, minyak, gula, roti, mie instan, telor dan teh. Kami berharap, apa yang kami lakukan ini bisa bermanfaat bagi masyarakat yang sedang tertimpa musibah," ungkapnya.
Aksi sosial ini juga dalam rangka menanamkan sikap peduli dan jiwa sosial kepada siswa. Ini sejalan dengan program penanaman karakter bangsa dan generasi muda Islam kepada siswa yang sudah diajarkan di sekolah.
"Ini momen yang pas untuk menanamkan sikap sosial kepada siswa. Melalui kegiatan ini, siswa juga mengetahui bahwa ibadah itu tidak hanya sholat, puasa, zakat, haji, membaca Alquran dan amalan lain. Karena, tolong menolong terhadap sesama manusia juga merupakan ibadah," terang Ghafardi.
Melalui program ini, Ghafardi berharap nilai-nilai ibadah dan rasa sosial bisa tertanam dalam jiwa siswa. Sehingga, siswa menerapkannya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
"Intinya, sekolah ingin siswa bisa merasakan apa yang dirasakan sahabat-sahabat yang tengah tertimpa musibah," tutur Ghafardi. (ade)

Komentar Via Facebook :