Makan Siswa Rp38,8 Miliar, Menu Sekolah atau Jamuan VIP?
Sarapan Rp47 Ribu, Prasmanan Rp130 Ribu: Ada Apa dengan Anggaran Disdik Riau?
Kantor Disdik Riau
PEKANBARU, Oketimes.com - Belanja makan dan minum siswa di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Riau menjadi sorotan setelah LSM Benang Merah Keadilan membeberkan dugaan ketimpangan anggaran yang dinilai janggal. Di tengah berbagai keluhan mengenai efisiensi anggaran daerah, angka yang muncul justru memunculkan pertanyaan lain: apakah yang sedang disiapkan untuk siswa adalah kebutuhan makan harian atau standar jamuan hotel berbintang?
Direktur Eksekutif LSM Benang Merah Keadilan, Idris, kepada wartawan pada Selasa (19/5/2026), menyebut Dinas Pendidikan Provinsi Riau mengalokasikan APBD Tahun 2026 sebesar Rp38.819.770.901 untuk kebutuhan makan dan minum siswa pada sejumlah sekolah di bawah kewenangan provinsi.
Yang menjadi sorotan bukan semata besar kecilnya anggaran, melainkan perbandingan dengan daerah lain yang menjalankan pola kegiatan serupa.
LSM Benang Merah membandingkan pengadaan di Riau dengan Provinsi Sumatera Barat. Menurut Idris, SMA Negeri 5 Sumatera Barat atau SMA Unggul Sumbar di Kabupaten Dharmasraya juga menyediakan kebutuhan makan siswa dengan pola yang sama, yakni sarapan, makan siang dan makan malam. Namun, nilai anggaran yang digunakan disebut sangat berbeda.
Data yang disampaikan menyebut satu sekolah di Sumatera Barat menghabiskan anggaran sekitar Rp1,05 miliar, sedangkan beberapa sekolah lainnya berada pada kisaran ratusan juta rupiah. Sementara di Riau, SMA Plus Provinsi Riau disebut memiliki alokasi anggaran makan dan minum mencapai Rp10,266 miliar.
Perbandingan itu menimbulkan tanda tanya. Sebab jika menu, jadwal makan, dan jumlah siswa relatif tidak memiliki perbedaan signifikan, selisih angkanya terlihat terlalu lebar untuk diabaikan begitu saja.
"SMA Unggul Sumatera Barat makan minum siswa hanya Rp1 miliar, sementara SMA Plus kita Rp10 miliar. Padahal porsi dan jadwal makannya sama, ada sarapan, makan siang dan makan malam," kata Idris.
LSM Benang Merah juga mengaku menelusuri nilai penawaran dari pihak ketiga yang mengerjakan pengadaan tersebut. Berdasarkan data yang mereka sampaikan, CV Lovita di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, menawarkan makan siang sekitar Rp23 ribu per porsi.
Sementara pada pelaksanaan di Riau yang disebut dikerjakan CV Resta Catering, harga makan siang disebut mencapai Rp47 ribu per porsi. Bahkan terdapat paket prasmanan dengan nilai mencapai Rp130 ribu per porsi.
Jika angka itu benar dan digunakan secara rutin, publik mungkin dapat bertanya: apakah siswa sedang menerima konsumsi standar sekolah berasrama, atau diam-diam menikmati pengalaman kuliner yang biasanya hadir dalam agenda seminar, pertemuan pejabat, atau resepsi khusus.
"Ini sangat timpang sekali. Sumbar Rp23 ribu, itu kita anggap wajar jika ditambah pajak. Riau Rp47 ribu per porsi, apalagi prasmanannya Rp130 ribu. Mewah sekali," ujar Idris.
LSM Benang Merah menyatakan akan membuka data rincian anggaran tersebut kepada masyarakat untuk ditelaah lebih lanjut. Mereka mengajak publik untuk ikut mengawasi kebijakan penggunaan anggaran pemerintah.
Karena pada akhirnya, persoalan ini bukan lagi sekadar tentang harga nasi, lauk, atau menu makan siswa. Yang dipertanyakan publik adalah sesuatu yang lebih besar: apakah anggaran pendidikan sedang benar-benar memberi makan kebutuhan siswa, atau justru membuat pos anggarannya sendiri terlihat jauh lebih kenyang.***

Komentar Via Facebook :