Syahrial Abdi: Dari Santri Babussalam ke Kursi Sekda Riau

Syarial Abdi.

PEKABARU, Oketimes.com - Di balik sosok birokrat yang malam ini resmi dilantik sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Riau, ada perjalanan panjang seorang santri yang ditempa oleh disiplin pesantren dan pengalaman lapangan. Syahrial Abdi, lulusan Pondok Pesantren Babussalam Pekanbaru, tumbuh dengan nilai religius sekaligus tekad kuat untuk berkontribusi bagi negeri.

Sejak remaja, Syahrial dikenal sebagai pelajar berprestasi. Di bangku SMP, ia kerap menorehkan juara di bidang akademik maupun nonakademik. Bahkan, ia pernah mewakili sekolah dalam program pertukaran pelajar ke luar negeri. Bakat kepemimpinannya sudah terlihat sejak dini—perpaduan antara kecerdasan intelektual dan keteguhan moral yang menjadi ciri khas jebolan Babussalam.

Selepas menamatkan pendidikan di pesantren, Syahrial melanjutkan studinya ke Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Dari santri, ia menapaki jalan panjang birokrasi. Kariernya dimulai dari level kecamatan, lalu berlanjut menjadi kepala dinas. Ketekunan dan integritas membuatnya dipercaya memegang jabatan strategis, termasuk sebagai Penjabat Bupati Kampar dan Bengkalis.

Bagi Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Babussalam, capaian Syahrial adalah kebanggaan sekaligus inspirasi. “Beliau contoh nyata bahwa santri bisa meniti jalan panjang hingga menduduki posisi penting di pemerintahan,” ujar Ketua Harian IKA Babussalam, Androy Ade Rianda. Hal serupa juga disampaikan Rizki Auliansyah, alumni Babussalam angkatan 1998. Menurutnya, Syahrial adalah teladan santri yang mampu menjaga identitas keislaman sembari menorehkan prestasi dalam birokrasi.

Kini, Syahrial Abdi bukan hanya Sekda Riau, tapi juga Ketua IKA Babussalam Pekanbaru. Ia membawa nilai-nilai pesantren ke dalam dunia birokrasi: disiplin, kerja keras, dan kepekaan sosial. “Dengan kerja keras, doa, serta nilai moral yang kuat, seorang santri mampu berkontribusi besar bagi daerah dan bangsa,” ungkap Rizki.

Kisah Syahrial adalah bukti bahwa pesantren tidak hanya melahirkan ulama, tetapi juga pemimpin dengan integritas tinggi. Dari ruang kelas sederhana di Babussalam hingga ruang rapat pemerintahan provinsi, jejaknya menunjukkan bahwa pendidikan berbasis iman dan akhlak dapat menjadi fondasi kokoh bagi kepemimpinan masa depan.***


Komentar Via Facebook :

Berita Terkait