Indonesia Kecam Pernyataan Presiden Macron

Presiden Joko Widodo menyampaikan apresiasinya atas kunjungan yang dilakukan oleh Presiden Perancis Francois Hollande serta membawa rombongan 40 pengusaha ke Indonesia pada Rabu (29/3/2017).

Jakarta, Oketimes.com - Pemerintah Indonesia mengecam pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dianggap tidak menghormati umat Islam dan komunitas Muslim di seluruh dunia.

"Pernyataan itu telah menyinggung lebih dari dua miliar umat Muslim di seluruh dunia dan memicu perpecahan di antara berbagai agama di dunia," kata Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Jumat (30/10/2020).

Kemlu menegaskan Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar dan demokrasi terbesar ketiga di dunia, mendesak masyarakat global, untuk mengedepankan Persatuan dan Toleransi beragama, terutama di tengah pandemi yang sedang berlangsung.

"Kebebasan berekspresi hendaknya tidak dilakukan dengan cara yang menodai kehormatan, kesucian dan kesucian nilai dan simbol agama," tandas Kemenlu.

Pada awal Oktober, sebelum pembunuhan guru sekolah di Prancis, Samuel Paty Macron juga sempat membuat pernyataan yang telah memicu kemarahan umat Muslim di dunia khususnya dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Kemarahan umat Muslim itu, diikuti seruan memboikot produk-produk Prancis yang ada di negara-negara Arab, serta aksi protes di dunia Muslim mulai dari Pakistan, Suriah, Bangladesh, sampai Gaza.

Pada 2 Oktober 2020, di hadapan hadirin sebuah kota di barat laut Paris, atau sekitar 20 kilometer dari tempat Paty dibunuh dengan cara dipenggal setelah mendiskusikan kartun Nabi Muhammad di kelasnya, Macron menyampaikan rencana untuk memerangi separatime, khususnya pada Islam.

"Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis hari ini, di seluruh dunia," kata Macron dalam pidato berbahasa Prancis, dikutip dari Euro News, Rabu (28/10/2020) lalu.

Macron menambahkan perlunya “membebaskan Islam di Prancis dari pengaruh asing”. Dia menguraikan rencana untuk mengakhiri sistem yang mengizinkan para imam dilatih di luar negeri, mengurangi homeschooling, dan mengendalikan pendanaan keagamaan.

Guru sekolah menengah atas, Samuel Paty, meninggal dengan kepala terpenggal pada 16 Oktober 2020, karena dibunuh oleh seorang ekstrimis Chechnya.

Peristiwa itu menimbulkan syok mendalam di Prancis. Terkait kasus itu, Macron menyampaikan pembelaan penuh semangat atas kebebasan berbicara dan nilai-nilai sekuler di negaranya. Dia juga bersumpah Prancis tidak akan menyerah kepada kartun.***

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait