Home / Peristiwa / Banjir Bandang Terjang 9 Kelurahan di Sentani, Dikabarkan 50 Orang Tewas dan 59 Luka-luka

Banjir Bandang Terjang 9 Kelurahan di Sentani, Dikabarkan 50 Orang Tewas dan 59 Luka-luka

Banjir Bandang Terjang 9 Kelurahan di Sentani, Dikabarkan 50 Orang Tewas dan 59 Luka-luka
Relawan Squad PB Indonesia
Pesawat jenis Twin Otter di Lapangan Terbang Adventis Doyo Sentani yang diterjang banjir bandang

Sentani-Japura, Oketimes.com - Sekitar 50 orang dikabarkan tewas akibat banjir bandang yang menerjang Sentani di Kabupaten Jayapura, Papua yang terjadi pada pada Sabtu (16/03/19) malam.

Hingga Minggu (17/03/19) sekira pukul 10.00 WIB, tercatat dampak banjir bandang yang menerjang 9 kelurahan di Kabupaten Sentani, sebanyak 50 orang meninggal dunia dan 59 orang luka-luka.

Bupati Jayapura Mathius Awoitauw mengungkapkan lebih dari 1000 warga Sentani dievakuasi ke kantor bupati dan rumah dinasnya. Banjir bandang yang terjadi di malam hari, membuat para warga tidak mempersiapkan diri, sehingga yang diperlukan saat ini adalah kebutuhan pokok.

"Karena tengah malam musibah ini, jadi ada yang dalam kondisi tidur, belum siap sama sekali, mereka hanya keluar membawa baju yang di badan," ujar Mathius seperti diberitakan BBC News Indonesia dan dilansir oketimes.com Minggu (17/03/19).

Mathius juga menerangkan bahwa kebutuhan air juga terkendala karena sumber air berasal dari Gunung Cicloop, sehingga dibutuhkan tangki air bersih untuk kebutuhan warga dan keperluan rumah sakit yang menampung korban luka-luka.

Sementara Kepala Bidang Humas Polda Papua Ahmad Musthofa Kamal mengatakan tiga lokasi yang terdampak parah akibat terjangan banjir bandang ini adalah di sekitar bandara, perumahan Bintang Timur dan sekitar lapangan udara.

Sebagian besar wilayah yang terdampak hingga kini masih tertutup lumpur material banjir. Diperkirakan masih banyak korban yang terperangkap materi lumpur. "Air masih mengalir cukup deras tapi perlu diwaspadai. Kita masih melakukan pencarian," kata dia.

Tepisah, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menuturkan dari 50 orang meninggal dunia, 38 jenasah dibawa ke RS Bhayangkara Polda Papua, 7 jenasah di RS Marthin Indey, dan 5 jenasah di RS Yowari.

Sebanyak 49 korban sudah berhasil diidentifikasi sedangkan 1 jenasah masih dalam proses identifikasi.Sementara 59 orang luka-luka yang dirujuk ke PKM Sentani, RS Bhayangkara dan RS Yowari.

Dinas Kesehatan Jayapura dan Dinas Kesehatan Papua mengkoordinir penanganan tim medis bagi korban. Namun, Sutopo menuturkan data korban ini masih akan bertambah karena pendataan masih dilakukan.

"Karena proses evakuasi masih berlangsung dan belum semua daerah yang terdampak di sembilan jelurahan bisa dijangkau tim SAR gabungan," ujar Sutopo, Minggu (17/03/19).

Material lumpur dan kayu akibat banjir membuat akses jalan tertutup, membuat evakuasi korban sulit dilakukan. "Fokus utama saat ini adalah proses evakuasi, penyelamatan korban mengingat luasnya wilayah terdampak banjir bandang," tegas Sutopo.

Adapun kerusakan meliputi 9 rumah rusak terdampak banjir di BTN Doyo Baru, 1 mobil rusak atau hanyut, jembatan Doyo dan Kali Ular mengalami kerusakan.

Sementara itu, sekitar 150 rumah terendam di BTN Bintang Timur Sentani, kerusakan 1 pesawat jenis Twin Otter di Lapangan Terbang Adventis Doyo Sentani.

Sebagaimana diberitakan akibat tingginya intensitas hujan yang menguyur Kabupaten Jayapura dan sekitarnya mulai dari sore hari, Sabtu (16/03) hingga pukul 23:30 WIT, mengakibatkan Banjir merendam perumahan warga di Kelurahan Hinekombe, Dobonsolo dan Sentani Kota, Kampung Yahim dan Kehiran.

Lebih lanjut, Sutopo mengatakan sejak september 2018, Dewan Ketahanan Nasional (Wantanas) bersama BNPB telah memperingatkan tentang adanya banjir bandang.

Wilayah Sentani itu rawan banjir akibat kerusakan lingkungan dan pertambangan liar di lokasi situ. Apalagi pada tahun 2007 lalu, di Sentani juga pernah diterjang banjir bandang.

Menurutnya, lejadian banjir bandang yang menerjang pada Sabtu silam, menurut Sutopo, menunjukkan hujan deras yang terjadi pada sore hari membendung air di sungai ada. Namun air kemudian meluap dan menerjang wilayah di sekitarnya.

"Ini karakter banjir besar yang terjadi di Indonesia kita bisa melihat bagaimana kayu gelondongan yang begitu besar dan batu besar menerjang desa-desa," para Sutopo.

Guna mengantisipasi banjir bandang sambung Sutopo, Wantanas dan BNPB sudah melakukan penanaman 20.000 bibit pohon untuk memperbaiki lingkungan, terutama hutan yang ada.***

Sumber : BBC News Indonesia   / Editor : Van Hallen 

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.