Home / Citizen Journalism / Ciri-ciri Media Abal-abal yang Sering Menebarkan Hoax

Ciri-ciri Media Abal-abal yang Sering Menebarkan Hoax

Ciri-ciri Media Abal-abal yang Sering Menebarkan Hoax
Int
ILustrasi.

Netizen seringkali terkecoh dengan berita-berita konfrontatif yang muncul di media sosial. Banyak teman yang menyebarkannya, tanpa tahu konten berita tersebut berasal dari sumber tepercaya atau tidak. Lantas, tanpa pikir panjang, kita juga turut membagikan tulisan tersebut, hingga membentuk sebuah rantai hoax yang panjang.

Hal ini kadang membikin gerah. Situasi politik, pluralisme, dan berbagai hal yang sedang cukup kacau menjadi kian panas. Karena itu, sebagai generasi millennial, yang menjadi bibit emas bangsa, kita harus bisa menyaring segala isu dengan cerdas, dan menahan diri untuk tak percaya pada media abal-abal. Bagaimana caranya?

1. Tulisan hoax kerap ditulis di laman Blogspot atau Wordpress.

Ingat, umumnya, laman Blogspot atau Wordpress ini dimiliki secara pribadi. Penulisnya tak memiliki domain berbayar. Alamat laman demikian bisa menjadi salah satu ciri yang menguatkan bahwa berita atau tulisan yang ditulis di dalamnya bukan memuat fakta semata, tapi dicampur dengan opini pribadi.

2. Tak berbadan hukum dan tak memiliki payung perusahaan yang jelas.

Coba cek laman dari tulisan yang sedang kamu baca. Apakah memiliki payung hukum dan nama perusahaan yang jelas? Umumnya informasi tersebut terdapat di bagian bawah-pojok kanan/kiri atau atas pojok kanan/kiri. Kalau tak tercantum info yang demikian, berarti media itu abal-abal dan dipastikan dimiliki pribadi.

3. Tak ada informasi mengenai penulis dan editornya.

Berita yang resmi tentu di bagian dalam tulisannya dicantumkan siapa penulis dan siapa editornya. Bila tidak diberi nama terang, paling tidak inisial yang bisa dipertanggungjawabkan. Bila tak ada keterangan mengenai penulis dan editornya, bisa dipastikan tulisan itu tak bisa dipertanggungjawabkan bila terjadi kekeliruan informasi atau penyelewengan fakta.

4. Tak memiliki struktur redaksi yang jelas.

Harus jeli melihat laman berita yang kamu baca. Kalau media itu memiliki struktur redaksi yang jelas, sudah pasti tulisan itu dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Kamu bisa mengirim surat keberatan atau surat pembaca yang ditujukan kepada jajaran redaksi bila terjadi kekeliruan tulisan. Namun, kalau tak ada struktur redaksi yang jelas, tak tahu kepada siapa kita bakal mengkritik tulisan tersebut. Rincian tulisan struktur redaksi umumnya ada di bagian pojok kiri/kanan atas atau bawah, berdekatan dengan informasi perusahaan.

5. Narasumber tak jelas, bukan dari kalangan profesional.

Cermati juga tulisan itu "meminjam mulut"siapa. Kalau bukan dari kalangan profesional, tak perlu dijadikan referensi atau dipercaya kebenarannya. Sebab, belakangan, banyak oknum yang mengaku menjadi tokoh publik, tapi tujuannya untuk menyebarkan teror atau ketakutan dan perpecahan. Cek dulu jabatan dan latar belakang penulisnya.

6. Memihak salah satu kelompok atau memiliki kepentingan yang jelas mendukung kelompok tertentu, lantas menjatuhkan kelompok lain.

Media yang kredibel memiliki kekuatan independensi. Kalau memihak salah satu pihak dengan cara menjatuhkan pihak lain, bisa jadi media tersebut berafiliasi dengan kepentingan tertentu. Cukup dibaca, namun tak perlu menjadi referensi utama.

7. Memakai bahasa konfrontasi yang seharusnya tak digunakan dalam sebuah berita.

Penyampaian fakta tentu menggunakan kata-kata baku yang "sopan" dan tak menyulut emosi massa. Artinya, tak diperkenankan sebuah berita ditulis dengan kalimat atau kata yang menimbulkan kegaduhan. Kecuali, kalimat tersebut merupakan kutipan langsung dari si pihak yang diberitakan atau memang kalimat konfrontasi itu muncul dari seseorang, yang selanjutnya dibahas menjadi sebuah tulisan.

8. Melanggar kode etik jurnalistik, seperti menyertakan foto-foto vulgar yang tak disensor.

Nah, ini sering dijumpai belakangan. Menurut kode etik jurnalistik, foto vulgar seperti gambar pornografi atau korban yang berdarah-darah itu tak diperkenankan dicantumkan di pemberitaan tanpa sensor. Kalau tulisan yang kamu baca itu mencantumkan gambar-gambar demikian, sudah pasti media yang mengunggahnya adalah media abal-abal.

9. Mungkin ini yang paling konyol tapi nyata: tak ada iklannya!

Yap, sebuah media yang tak kredibel itu umumnya tak beriklan lho. Si pengiklan sudah pasti memasang iklannya di laman-laman berpayung perusahaan tepercaya. Nah, mulai sekarang, mari jadi pembaca yang cerdas dan kritis!***

 

 

Sumber : Idntimes.com

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.