Home / Ekbis / PHK Karyawan Tapi Ogah Bayar Pesangon, PT Citra City Pasific Mal Pekanbaru Duga Labrak UU Naker

PHK Karyawan Tapi Ogah Bayar Pesangon, PT Citra City Pasific Mal Pekanbaru Duga Labrak UU Naker

PHK Karyawan Tapi Ogah Bayar Pesangon, PT Citra City Pasific Mal Pekanbaru Duga Labrak UU Naker
Ist
ILustrasi

Pekanbaru, Oketimes.com - Lakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada seorang karyawan, PT Citra City Pasific (CCP) selaku pengelola Mal SKA Pekanbaru, tak kunjung memberikan uang pesangon atau Uang Penghargaan Masa Kerja (UPMK), serta Uang Penggantian Hak (UPH) sesuai amanat UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan kepada karyawan tersebut hingga kini.     

Pemutusan Hubungan Kerja itu, dialami oleh AD alias Desi (35), seorang Karyawan PT CCP yang sudah bekerja selama kurang lebih 8 tahun sebagai security di Mal SKA Pekanbaru.

Kepada awak media oketimes.com dan riaueditor.com pada Selasa, 10 Juli 2018 pagi di Pekanbaru, Desi mengutarakan kekesalannya kepada manajemen PT. CCP selaku Pengelola Mal Pekabaru yang tak kunjung menerima uang pesangon atau Uang Penghargaan Masa Kerja (UPMK), serta Uang Penggantian Hak (UPH) sesuai amanat UU No 13 tahaun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pasca dirinya di PHK-kan manajemen sejak dua pekan lalu.  

Surat PHK itu, sudah diterimanya sejak Selasa 26 Juli 2018 lalu dari manajemen PT CCP, lewat bagian Personalia Mal SKA berinisial ER alias Emon pada waktu itu. Akan tetapi, saat dilakukan PHK, Desi tak kunjung menerima uang pesangon tersebut hingga kini yang sudah memasuki dua pekan.            

Padahal dalam hitungan pesangon atau Uang Penghargaan Masa Kerja (UPMK), serta Uang Penggantian Hak (UPH) sesuai amanat UU No 13 tahaun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang dilakukan manajemen sudah dilakukan, akan tetapi dengan seribu alasan, manajemen tak kunjung memberikannya kepada mantan karyawan itu hingga kini.

"Saya sudah berulang kali bolak-balik ke kantor Mal SKA Pekanbaru, hanya untuk meminta hak saya pasca di PHK perusahaan dua minggu lalu. Baik melalui telepon maupun langsung, pihak manajemen selalu berdalih dengan alasan yang tidak jelas. Padahal setahu saya sebagaimana karyawan lain pada umumnya, begitu diPHkan langsung diberikan uang pesangon atau hak-hak lainnya, kok saya ditunda-tunda," kesal Desi.

Melalui media ini, ia berharap kepada pemerintah atau instansi terkait, agar memberikan teguran tegas kepada PT.CCP selaku pengelola Mal Pekanbaru, untuk segera memberikan hak-hak karyawan sebagaimana mestinya, pasca melakukan pemutusan hubungan kerja.

"Saya hanya bisa mengadukan hal ini kepada media, agar bapak-bapak yang duduk di Pemerintahan atau instansi terkait itu, bisa mendengarkan apa yang saat ini saya rasakan, akibat perbuatan manajemen PTCCP yang dinilai tidak profesional dan kurang bertanggjawab melakukan pememutusan hubungan kerja, tanpa memberikan uang tolak atau pesongon kepada karyawannnya," pinta Desi.

Menutup Diri
 
Terpisah, Manajemen PT Citra City Pasific (CCP) selaku pengelola Mal SKA Pekanbaru, melalui bagian Personalia berinisial ER alias Emon yang bertanggungjawab untuk mengangkat atau memPHK-kan karawan saat dihubungi lewat ponselnya selama dua hari ini, juga tak kunjung memberikan penjelasan terkait pemutusan karyawan tersebut.

Saat dihubungi lewat ponselnya ke nomor 082385694XXX berulang kali, baik lewat panggilan telepon dan pesan pendek yang dikirimkan ke ponselnya, anak buah dari pimpinan Sawitra Wijaya ini tak kunjung memberikan penjelasan apapun kepada awak media ini.

Ia hanya bisa mendengar panggilan dan SMS masuk lewat ponselnya yang aktif, akan tetapi dirinya tak mau memberikan pejelasan. Begitu pula saat dihubungi lewat panggilan dan pesan Whatsapp yang dikrimkan ke ponselnya, juga tak membelas.

Sepertinya bagian Personalia PT.CCP Mal Pekanbaru yang didirikan Erwin Prawijaya ini lebih suka berdiam diri, ketimbang memberikan penjelasan kepada awak media ini, hingga berita ini dimuat. (ars)

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.