Home / Misteri / Kisah Horor dan Temuan Emas Pemulung di Bantargebang

Kisah Horor dan Temuan Emas Pemulung di Bantargebang

Kisah Horor dan Temuan Emas Pemulung di Bantargebang
(kumparan)
Oketimes - Jakarta : Bantargebang ternyata tak hanya menyimpan gunungan sampah dan ragam kisah perjuangan para pemulung yang mengupayakan napas kehidupan, tapi juga berbagai cerita seram. Kisah-kisah menakutkan itu, dialami para pemulung yang berkerja di antara bukit-bukit sampah.

"Saya sering banget, ketemu suara yang ngomong ‘kakiku mana, kakiku mana’. Saya tengak tengok, enggak ada orang, bodo amat. Lalu saya lagi jalan sambil gendong keranjang, tiba-tiba dari belakang suka kayak ada yang tarik-tarik. Tapi saya lihat enggak ada orang," kata salah seorang pemulung dengan nada serius.

Mendengar kisah horor itu, bulu roma kami berdiri seketika. Pemulung yang tak ingin disebutkan identitasnya itu, kami temui saat berada di atas gunung sampah Zona 3 Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Jumat 15 September 2017 lalu.

Pemulung yang mengaku sudah sekitar 30 tahun tinggal di Bantargebang itu menuturkan, kejadian-kejadian mistis itu sempat sering dialami oleh dia dan rekan-rekan pemulung lainnya beberapa tahun lalu.

Di tempat kami berdiri, di atas timbunan sampah setinggi 36 meter (Zona 3 merupakan yang tertinggi dari 5 zona di TPST Bantargebang dan merupakan zona favorit pemulung), si pemulung malam menceritakan, titik itu termasuk yang paling sering menjadi lokasi kecelakaan yang merenggut korban jiwa.

Misalnya, ia mengatakan, pernah ada tiga anak kecil yang tewas, akibat gas yang mengendap dalam timbunan sampah itu meledak.

"Waktu itu jam 11.00 WIB kalau enggak salah, pas posisi mobil truk mengantre untuk buang sampah, ada anak kecil tiga orang tersambar api ledakan gas tersebut. Itu langsung menyambar aja, mati di tempat," kata laki-laki itu. Ia berhenti sejenak dari aktivitas memulungnya untuk berbincang dengan awak media.

Kejadian lain, ceritanya kepada awak media pernah terjadi longsor pada timbunan sampah di Zona 3. Bencana itu menewaskan tujuh orang, akibat tertimbun longsoran. Korban tewas merupakan pemulung yang tengah bekerja pada malam hari.

Tak hanya itu, nuansa ganjil juga terlihat dari penemuan potongan-potongan tubuh manusia dan bayi di antara sampah.

Pada tahun-tahun sebelumnya, kata dia, sering kali rumah sakit membuang bagian tubuh manusia, seperti jari dan jeroan ke tempat itu. Biasanya jeroan atau bagian dalam tubuh dibungkus di kantung plastik atau di dalam toples.

Si pemulung malam bahkan sempat menemukan jasad bayi saat sedang memulung. Ia pun melapor kepada petugas dinas pengawas lapangan. Dan sebagai buntut atas laporan tersebut, ia harus hadir dalam pemeriksaan polisi sebagai saksi selama beberapa hari.

"Ditanyain, mobil bawa (jasad bayinya) jam berapa, mobil apa warnanya. Orang saya enggak tahu. (Tahu begitu) mending saya bawa pulang, saya makamkan aja di tanah sendiri. Udah tiga kali saya nemu (jasad bayi), yang terakhir tahun kemarin itu di atas, di Zona 4," ungkap pemulung itu.

Dia, si pemulung yang menyimpan 1001 cerita mengerikan itu, secara kebetulan bertemu kami. Sebelum berbincang dengannya, kami sempat mengobrol dengan tokoh masyarakat Kampung Ciketing Sumurbatu, Usman (53), dan seorang pemulung bernama Wawan (32) tentang temuan-temuan ganjil di Bantargebang.

Wawan menceritakan, acap kali teman-temannya juga menemukan potongan tubuh manusia. Tetapi Wawan sendiri belum pernah mengalaminya, dan ia bersyukur sebab ngeri sendiri membayangkannya.

"Kadang-kadang (teman-teman menemukan) di karung ada potongan (tubuh manusia). Enggak ada yang utuh. Kadang-kadang kepalanya aja, atau tangannya. Enggak tahu badannya di mana. Kadang-kadang kakinya doang satu. Hampir mirip boneka," ujar Wawan.

Penemuan itu, menurut Wawan yang biasa memulung pada malam hari, memang sudah menjadi hal biasa. Belum lama berlalu, kata dia, bahkan ditemukan karung berisi jasad tiga orang yang dimutilasi.

Serupa cerita Wawan, Usman pun menyebut hal tak wajar semacam itu amat sering ditemukan dan oleh sebab itu kebanyakan pemulung tidak lagi merasa heran dan takut ketika menemukan potongan tubuh maupun jasad bayi di antara tumpukan sampah.

"Yang namanya potongan manusia, manusia dewasa, itu banyak. Seperti yang pernah terjadi di Jakarta, (mayat) hilang tubuhnya, ketemunya di Bantargebang," tutur Usman.

"Kalau janin, yang masih kecil, itu banyak. Cuma pemulung enggak mau pusing. Bawa pulang aja, lalu dimakamkan. Karena tubuhnya masih lengkap. Kalau terpisah pasti dilaporkan," imbuhnya.

Berbeda dengan temuan jasad bayi yang biasanya dibawa pemulung untuk langsung dimakamkan, temuan potongan tubuh orang dewasa, karena dianggap tidak wajar, maka dilaporkan kepada pihak berwajib.

"Pernah yang ketemu kepala, dilaporkan. Ya paling dicari keluarganya. Kalau yang janggal, baru kami lapor ke polisi. Kalau yang masih komplet, masih orok, ya susahlah. Berarti dia orang tuanya udah enggak suka, sehingga dibuang di kardus," kata Usman.

Tapi tunggu dulu, temuan di Bantargebang tak terbatas dalam bentuk yang mengerikan. Para pemulung juga kerap ketiban nasib baik.

Wawan misalnya mengatakan, sudah dua kali menemukan emas ketika bekerja di atas gunung sampah Zona 3 pada malam hari. Emas pertama yang ia temukan seberat 3 gram, sedangkan yang kedua seberat 5 gram. Temuan emas itu nyaris sesering temuan potongan tubuh.

"Yang juga sering teman-teman pemulung temukan adalah emas. Kalau dolar waktu itu (terjadi saat) Jakarta kebanjiran, banyak pemulung yang menemukan dolar waktu itu," ucap Usman.

Kemungkinan, dolar-dolar itu terseret banjir. Pemulung malam yang mengobrol dengan kami di Zona 3 mengamininya.
"Minggu kemarin, teman saya orang Madura dapat uang Rp 50 juta. Itu duit dolar ada, rupiah juga ada. Uangnya ditempatkan di wadah minuman, termos," kata dia. Sungguh gunungan sampah yang menyimpan misterius.***


Sumber : Kumparan.com

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.