Home / Senibudpar / Lumuri Rumah dengan Kotoran Kerbau & Kawin Lari di Dusun Sasak Lombok

Tradisi Unik di Lombok

Lumuri Rumah dengan Kotoran Kerbau & Kawin Lari di Dusun Sasak Lombok

Lumuri Rumah dengan Kotoran Kerbau & Kawin Lari di Dusun Sasak Lombok
(Shutterstock)
LOMBOK merupakan salah satu destinasi wisata yang wajib Anda kunjungi, karena memiliki daya tarik tersendiri, baik keindahan alam, adat istiadat maupun budayanya. Dan, salah satu objek wisata mengesankan yang patut dikunjungi saat pelesiran ke Lombok adalah Dusun Sasak, Desa Sade, Rembitan, Lombok.

Dusun Sasak merupakan salah satu dusun yang masih mempertahankan adat istiadat dan tradisi Suku Sasak, Lombok. Inilah yang menjadi alasan mengapa dusun ini dijadikan Desa Wisata oleh Dinas Pariwisata setempat.

Saat mengunjungi dusun ini pengunjung akan ‘disambut’ dengan tulisan "Selamat Datang di Dusun Sasak, Sade, Rembitan, Lombok" yang terpampang di gerbang masuk Dusun tersebut. Tak hanya itu, di gerbang masuk itu pula pengunjung disambut oleh para pemandu wisata yang siap mengajak berkeliling sembari menjelaskan seluk beluk Dusun Sasak.

Dilansir dari suara.com, kesempatan menyambangi desa wisata tersebut, seorang pemandu wisata bernama Mujar dengan ramah menyapa dan mengajak mengelilingi wartawan di Dusun Sasak.

Saat jalan santai sembari menikmati keindahan alam sekitar, ia bercerita bahwa Dusun Sasak yang berdiri sejak 1907 ini memiliki lima bangunan adat utama yaitu, Beruga Sekenam, tempat yang digunakan sebagai tempat musyawarah dalam memecahkan suatu masalah, acara sunatan dan acara pernikahan.

"Kemudian ada Beruga Sekebat yang digunakan untuk kegiatan akikah. Ada pula Balai Jajar, Balai Kodong dan Balai Tani, serta lumbung yang bentuknya khas," terang lelaki yang juga merupakan warga Dusun Sasak.

Rumah Adat dan Tradisi Unik Merawat Rumah

Setelah puas berkeliling melihat lima bangunan adat yang merupakan fasilitas umum untuk kepentingan warga Dusun Sasak Sade, awak media pun diajak melihat rumah adat warga setempat. Bentuk rumahnya tampak seragam dimana bangunannya didominasi dari bambu, dengan atap daun alang-alang, sementara lantai rumahnya berupa tanah liat.

Mujar menjelaskan bahwa rumah khas suku Sasak memiliki dua ruang yakni ruangan depan untuk orangtua dan anak, serta ruang belakang untuk dapur, tempat tidur gadis dan tempat melahirkan. Selain itu terdapat teras rendah yang memiliki tiga tangga.

Teras rumah yang rendah itu, kata Mujar, memiliki arti agar tamu merunduk. Sedangkan arti tiga anak tangga, untuk mengingat Tuhan Yang Maha Kuasa, mengingat ibu dan ayah.

Sedangkan untuk perawatan rumah, warga Sasak Sade mempunyai cara unik, yaitu melumuri rumah dengan kotoran kerbau dan sapi. "Ya, cara merawat rumah dengan melumuri kotoran kerbau dan sapi merupakan tradisi turun temurun yang sudah dilakukan sejak nenek moyang kami. Cara tradisional ini kami jaga untuk melestarikan adat istiadat dan tradisi suku Sasak," terangnya.

Ditanya mengapa melumuri rumah dengan kotoran kerbau dan sapi, dan apa pula maknanya? Mujar mengatakan bahwa melumuri rumah dengan kotoran hewan merupakan simbol penghormatan terhadap jasa kerbau dan sapi yang telah banyak membantu warga Dusun Sasak, Sade.

"Orangtua kami juga menganggap kerbau lebih suci dari kotoran sapi, karena kerbau banyak jasa di sawah. Kalau ada upacara ritual dilumuri pakai kotoran kerbau. Sementara untuk sehari-harinya, pakai kotoran sapi dua kali seminggu supaya nggak retak, jika bagian rumah menggunakan semen)," tutur Mujar panjang lebar.

Ia juga menceritakan bahwa Desa Sade juga memiliki arti obat atau kesadaran. "Sade menurut orangtua kami, artinya obat atau kesadaran. Sedangkan Rembitan adalah tempat kepala desa," terangnya.

Lebih lanjut Mujar mengatakan bahwa di Dusun Sasak Sade, ada 150 rumah dengan jumlah penduduk sekitar 700 orang. Sedangkan mayoritas agama di dusun tersebut beragama Islam.

Ia juga menceritakan bahwa di Dusun Sasak Sade, antara warga satu dengan lainnya masih satu garis keturunan atau satu keluarga, dan penduduk asli Sasak Sade jarang menikah dengan suku lain. Ini terjadi lantaran pernikahan di luar Suku Sasak, kata Mujar. Dilarang, karena ada sistem tagih menagih dengan membayar mahal mahar, yaitu berupa uang sekitar Rp30 Juta sampai Rp40 juta hingga satu ekor kerbau untuk dijadikan mahar.

"Kami di sini jarang menikah dengan orang luar, jadi kebanyakan menikah sama sepupu, bukannya kami nggak boleh menikah sama orang luar (di luar suku Sasak Sade), tapi kalau  menikah sama orang luar, ada sistem tagih menagih. Sistem tagih menagih ini kita bayar mahal. Kalau menikah sama sepupu yang di dalam, tetap kita bayar mahar, tapi nggak dipaksa, semampunya saja," cerita lelaki yang mengenakan ikat kepala khas Dusun Sasak ini.

Tradisi Kawin Lari dan Kawin Culik

Suku Sasak Sade dalam proses pernikahannya, kata Mujar, juga tidak mengenal budaya lamaran seperti pada umumnya. Yang ada justru tradisi unik yang disebut kawin culik dan kawin lari. Disebut kawin lari, menurut Mujar, karena lelaki harus menculik kekasihnya tanpa sepengetahuan orangtuanya.

"Kalau minta baik-baik ngelamar anak gadisnya, malah kita dianggap melanggar adat. Kalau orangtua kami di sini merasa tidak dihormati atau dihargai kalau kita minta baik-baik. Itulah makanya disebut kawin lari," terang dia tersenyum.

Sementara kawin culik, lanjut Mujar, yaitu proses meminang seorang perempuan dengan cara menculik, lalu sang perempuan dipaksa harus menerima calon suami yang menculiknya. "Kalau culik ini ada unsur pemaksaan. Jadi, suka tidak suka kalau berhasil diculik, biar pun tidak suka sama calon suaminya, harus suka dan menerima kalau kurang lebih dari satu malam," ceritanya.

Mujar mencontohkan, misalnya suatu malam seorang anak gadis berhasil dibawa lari, keesokan harinya pihak laki-laki harus mengutus dua orang untuk memberi tahu kepada pihak perempuan. Namun pihak utusan laki-laki tidak langsung memberi tahu kepada pihak perempuan, namun harus berkomunikasi terlebih dahulu kepada kepala sukunya kemudian ke rumah orangtua perempuan.

"Misalnya anaknya tadi malam bukan hilang, tapi sudah diambil sama anak si A atau si B. Jadi, berturut-turut tiga hari dan ketiga hari ini untuk meminta wali sama pihak perempuan. Jadi, biarpun nggak setuju, nggak merestui, kedua orangtua perempuan wajib ngasih wali kepada pihak laki-laki. Jadi, di sini nggak ada istilah nggak setuju. Kemudian setelah diberikan wali, baru dilaksanakan acara akad nikah," terang Mujar panjang lebar.

Setelah akad nikah, barulah digelar acara adat yang disebut Sorong Serah Aji Krame. Di acara adat ini, mempelai perempuan dan laki-laki tidak boleh saling komunikasi sebelum acara adat selesai. Prosesi Sorong Serah Aji Krame, kata Mujar, merupakan pengumuman resmi secara adat perkawinan seorang laki-laki dan perempuan, yang disertai penyerahan peralatan mempelai laki-laki, yang dikenal dengan piranti-piranti simbol adat.

"Tapi juga dibayar, tapi tidak dibayar berupa uang, kerbau nggak? Ini dibayar peninggalan warisan nenek moyang seperti kain, gelang keris dan uang lama kalau membayar dengan adat," tuturnya.

Usai melaksanakan Sorong Aji Krame, dilanjutkan dengan tradisi adat Nyongkolan. Acara Nyongkolan, menurut Mujar, merupakan iringi-iringan pengantin dari rumah mempelai laki-laki menuju rumah perempuan dan disertai musik yang disebut Gendang Baleq.

"Ini acara terakhir. Jadi, iring-iringan pengantin dari rumah kedua orangtua lelaki menuju orangtua kedua perempuan. Ada juga arak-arak penganten Gendang Baleq," katanya lagi.

Selain menceritakan adat pernikahan Dusun Sasak, Mujar juga menceritakan mayoritas penduduk Sasak Sade yang bermata pencaharian sebagai petani dan penenun kain tradisional.

"Kalau mata pencarian, sebagai penduduk Sasak kami di sini rata-rata petani padi dan kedelai. Jadi, panen di sini setahun sekali. Kalau ada hasil panen, kami konsumsi untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu kami juga menenun kain sebagai kerja tambahan," ucap Mujar.

Tak heran bila hampir semua rumah di Dusun Sasak menjual kain tenun, hiasan dan aksesoris seperti kalung dan gelang, serta pernak pernik khas Sasak Sade lainnya. Itulah pengalaman menakjubkan yang tak terlupakan saat suara.com menyambangi Desa Wisata Dusun Sasak, Sade. Anda tertarik mengunjungi dusun yang sarat dengan tradisi unik ini? (*)


Sumber : Suara.com

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.